Langsung ke konten utama

5 Cara Menangani Alergi Protein Susu Sapi pada Anak

Alergi pada anak memiliki angka prevalensi yang lebih besar dibandingkan dengan orang dewasa. Menurut Allergy and Asthma Foundation of America, alergi protein susu sapi termasuk salah satu alergi makanan yang paling umum terjadi pada anak-anak, dengan prevalensi alergi di tahun pertama kehidupan antara 2-7,5%. Bila tak tertangani dengan baik, alergi tak hanya membuat anak berisiko mengalami berbagai gangguan tumbuh kembang, namun juga berdampak pada aspek psikologis seluruh keluarga. Perhatikan fakta-fakta berikut dalam mengenali, mengonsultasikan, dan mengendalikan alergi pada anak.

1/ Risiko alergi pada anak umumnya meningkat bila terdapat riwayat penyakit atopik dalam keluarga seperti dermatitis atopik, asma, atau rhinitis alergi, dilahirkan lewat operasi caesar, dan terpapar asap rokok.

2/ Menurut Konsultan Alergi Imunologi Anak Prof. DR. Budi Setiabudiawan, dr., SpA(K), M.Kes, gejala akibat alergi susu sapi dapat menyerang sistem gastrointestinal (50-60%), kulit (50-60%), dan sistem pernapasan (20-30%). Adapun reaksi yang timbul dapat berupa eksim di kulit, sesak napas, kolik, diare berdarah, dan konstipasi. Bila diabaikan, keadaan ini dapat menimbulkan dampak jangka panjang terhadap kesehatan anak.

3/ Beberapa contoh gangguan tumbuh kembang anak akibat alergi yang tak tertangani dengan baik termasuk menjadi berat badan kurang ideal karena anak pilih-pilih makanan (picky eating), risiko obesitas, penyakit jantung, dan diabetes akibat gangguan hormon, dan gangguan saluran napas maupun gangguan tidur karena reaksi alergi rhinitis dan asma.
 

4/ Alergi protein susu sapi ini cenderung lebih sulit dikendalikan, karena alergen bisa hadir dalam berbagai bentuk selain susu, seperti kue, puding, dan sup yang mengandung susu sapi. Maka, orang tua harus tanggap mencermati kandungan dalam makanan dan lekas menangani reaksi alergi pada anak. Namun, psikolog Anna Surti Ariani S.Psi., M.Si., Psi. mengingatkan, orang tua tak perlu khawatir berlebihan, agar anak tidak tumbuh menjadi pencemas dan kurang percaya diri karena batasan pola makan yang harus dipatuhinya.

5/ Terapkan langkah 3K dalam menanggapi alergi pada anak: Kenali risiko dan gejala alergi dengan mengenal sifat anak dan kondisi lingkungan. Konsultasikan ke dokter agar anak mendapatkan diagnosis dan penanganan alergi yang tepat; kendalikan penyebab alergi dengan menyesuaikan gaya hidup dengan kebutuhan anak, termasuk dalam hal asupan nutrisinya.

Sb: Konferensi Pers Kampanye Bunda Tanggap Alergi dengan 3K (Kenali, Konsultasikan, dan Kendalikan) oleh Sarihusad & femina.co.id

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bayi Sembelit, Coba Tips Ini Bunda

Kemungkinan Penyebab Bayi Sembelit. BAB pada anak memang bergantung pada asupan makanan yang diberikan. Jika memang asupannya sedikit maka BAB-nya juga menjadi jarang dan jika telah mengkonsumsi susu formula maka akan mempengaruhi frekuensi BAB anak. Bayi yang disusui ASI memiliki tinja yang lebih lunak, sehingga gerakan usus menjadi lebih mudah, dan memiliki kadar hormon tertentu lebih tinggi sehingga ada peningkatan gerakan usus. Sedangkan susu formula lebih sulit untuk dicerna, umumnya gerakan usus pada bayi-bayi ini lebih lambat sehingga mengakibatkan BAB lebih jarang, tinjanya lebih tebal. Selain itu jika frekuensi masuknya susu juga kurang, bayi cenderung lebih sulit BAB.

Selain itu, memang wajar terjadi perubahan dalam frekuensi BAB bayi dengan semakin bertambahnya usia bayi, hal tersebut menunjukkan bahwa seluruh produk yang masuk ke dalam tubuh dapat terserap oleh sistem pencernaan bayi. Tidak ada batas waktu yang dapat dijadikan patokan waktu yang normal bagi bayi untuk BAB…

Cegah Kasus Balita Stunting (Kerdil) dengan Konsumsi Ikan

Makan ikan belum menjadi sebuah kebiasaan bagi masyarakatnya. Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek mengatakan kenyataan tersebut dibarengi dengan data dari Kementerian Kesehatan yang menunjukkan masih tingginya angka balita yang mengalami stunting.
Stunting merupakan kondisi perkembangan tinggi badan yang tidak optimal, yang akhirnya berdampak kualitas kecerdasan menjadi tidak seperti yang diharapkan. Data pemantauan status gizi pada 2016 menunjukkan jumlah balita stunting mencapai 27,5 persen. Rinciannya, sangat pendek 8,5 persen dan pendek 19 persen. Sedangkan target Badan Kesehatan Dunia (WHO) adalah di bawah 20 persen. “Masalah stunting ini serius. Bayangkan, dari 10 anak, 4 di antaranya tidak cerdas. Ini bukan yang kita inginkan. Kita ingin anak-anak Indonesia menjadi sehat dan cerdas,” kata Menteri Kesehatan.

Data tersebut juga menyebutkan kasus balita stunting ditemukan di sebagian wilayah Indonesia, terutama di wilayah Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan, dan Papua. Padahal di sa…

Ternyata Mudah Banget Setting Youtube agar Aman untuk Anak

Menurut studi dari Pew Research Center, saat ini ada lebih dari 60% pengguna YouTube yang mengaku masih menemukan video bermasalah berisikan perilaku kekerasan, video bohong, dan yang tidak layak konsumsi bagi anak-anak. Orangtua zaman now sebaiknya tak membiarkan anak-anak nonton YouTube tanpa pengawasan.

Begini caranya 'setting' Youtube biar aman tuk anak-anak:
Google memiliki serangkaian fitur content control baru pada update terbaru Youtube Kids. Orangtua kini bisa memilih secara manual video atau kanal mana saja yang bisa ditonton oleh anak. Google juga menyediakan koleksi video dan kanal-kanal dari sumber terpercaya. Adanya pilihan itu orangtua makin mudah menyisir tontonan pilihan tuk anaknya.

"Dari koleksi kanal milik partner terpercaya hingga memungkinkan orang tua memilih video dan kanal secara manual, kami memberikan kendali lebih kepada para orang tua," ujar Product Director YouTube Kids James Beser, dikutip Tribunstyle.com dari KompasTekno.

Orangtua jug…