Langsung ke konten utama

Wow, Ternyata Puasa Tak Kurangi Kualitas & Kuantitas ASI, lho..

Mom, kamu saat ini masih dalam status sebagai ibu menyusui? Kami acungkan jempol untuk kamu yang menyusui dan melaksanakan puasa di bulan Ramadhan ini. Sebab menurut dr. Dian Permatasari, M.Gizi, SpGK, Dokter Spesialis Gizi Klinik, tidaklah berkurang kualitas dan kuantitas ASI ketika berpuasa.

"Puasa tidak mengurangi kualitas dan kuantitas ASI, tapi semua ini tergantung dari asupan nutrisi si ibu sendiri," ujar dr.Dian dalam talkshow 'Mudik Nyaman Bunda Bersama si Kecil' di bilangan Jakarta Selatan, Senin (5/6).

Mom menyusui yang ingin berpuasa adalah dia yang memiliki kesehatan yang prima dan asupan nutrisi yang baik. Namun, kamu yang masih menyusui ekslusif untuk anak usia 0 - 6 bulan sama sekali tidak direkomendasikan berpuasa.

"Karena si kecil tidak memiliki asupan makanan lain selain dari ASI, maka ibu yang masih ASI ekslusif tidak disarankan berpuasa. Tapi kalau si kecil sudah MPASI silakan saja berpuasa karena dia sudah memiliki asupan selain ASI," tambah dr.Dian lagi.

Untuk menunjang kualitas ASI, kamu dianjurkan mengasup makanan sehat yang kaya serat, vitamin, dan protein. Hindari memakan panganan mengandung gula saat sahur karena akan membuat tubuh cepat menyerap kandungannya sehingga lekas merasa lapar lagi.

Khusus untuk Mom yang ingin mudik, berarti harus ada persiapan khusus untuk menyiapkan ASI dan makanan sepanjang perjalanan. Cobalah tahan nafsu kamu untuk membawa camilan yang manis dan instan.

"Ganti dengan buah potong atau sushi yang saat ini mudah dibuat. Jika pun harus membeli yang instan, usahakan makanan yang sehat," tutur dr.Dian. Sumber: vemale.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bayi Sembelit, Coba Tips Ini Bunda

Kemungkinan Penyebab Bayi Sembelit. BAB pada anak memang bergantung pada asupan makanan yang diberikan. Jika memang asupannya sedikit maka BAB-nya juga menjadi jarang dan jika telah mengkonsumsi susu formula maka akan mempengaruhi frekuensi BAB anak. Bayi yang disusui ASI memiliki tinja yang lebih lunak, sehingga gerakan usus menjadi lebih mudah, dan memiliki kadar hormon tertentu lebih tinggi sehingga ada peningkatan gerakan usus. Sedangkan susu formula lebih sulit untuk dicerna, umumnya gerakan usus pada bayi-bayi ini lebih lambat sehingga mengakibatkan BAB lebih jarang, tinjanya lebih tebal. Selain itu jika frekuensi masuknya susu juga kurang, bayi cenderung lebih sulit BAB.

Selain itu, memang wajar terjadi perubahan dalam frekuensi BAB bayi dengan semakin bertambahnya usia bayi, hal tersebut menunjukkan bahwa seluruh produk yang masuk ke dalam tubuh dapat terserap oleh sistem pencernaan bayi. Tidak ada batas waktu yang dapat dijadikan patokan waktu yang normal bagi bayi untuk BAB…

Cegah Kasus Balita Stunting (Kerdil) dengan Konsumsi Ikan

Makan ikan belum menjadi sebuah kebiasaan bagi masyarakatnya. Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek mengatakan kenyataan tersebut dibarengi dengan data dari Kementerian Kesehatan yang menunjukkan masih tingginya angka balita yang mengalami stunting.
Stunting merupakan kondisi perkembangan tinggi badan yang tidak optimal, yang akhirnya berdampak kualitas kecerdasan menjadi tidak seperti yang diharapkan. Data pemantauan status gizi pada 2016 menunjukkan jumlah balita stunting mencapai 27,5 persen. Rinciannya, sangat pendek 8,5 persen dan pendek 19 persen. Sedangkan target Badan Kesehatan Dunia (WHO) adalah di bawah 20 persen. “Masalah stunting ini serius. Bayangkan, dari 10 anak, 4 di antaranya tidak cerdas. Ini bukan yang kita inginkan. Kita ingin anak-anak Indonesia menjadi sehat dan cerdas,” kata Menteri Kesehatan.

Data tersebut juga menyebutkan kasus balita stunting ditemukan di sebagian wilayah Indonesia, terutama di wilayah Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan, dan Papua. Padahal di sa…

Hati-hati 5 Hal Ini Bisa Jadi Tanda Kanker pada Anak

Sebanyak 16.291 anak umur 0-14 tahun di Indonesia mengidap kanker anak berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013. Upaya penyembuhan kanker bisa diupayakan asalkan bisa ditemukan dalam fase yang masih dini.

Memang sulit, karena anak sulit untuk mengungkapkan keluhan mereka. Tapi bukan berarti tidak bisa sembuh kok.

"Survivor adalah bukti bahwa mereka bisa sembuh, jadi stigma kanker tidak bisa disembuhkan itu mungkin dulu ya. Sekarang masyarakat sudah mulai melek, karena mungkin dibantu dari media masa yang memberikan informasi gejalanya," kata dr Endang Windiastuti, SpA(K) disela Roadshow Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI) di Manado, Sulawesi Utara.

Nah, karena itu, yuk kenali beberapa gejala yang harus diwaspadai. Ketika menemukan ciri berikut pada anak Anda, jangan segan untuk segera melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

1 Berat badan tidak kunjung naik
Anak harus mengalami tumbuh dan kembang, itu berarti anak harus mengalami kenaikan berat badan. …