Langsung ke konten utama

Tips Mencegah Anak Rewel Saat Bersilaturahmi di Lebaran Ini

Membawa anak pergi ke luar rumah bukanlah perkara sederhana. Apalagi, sebentar lagi Idulfitri tiba. Mengunjungi banyak rumah saudara seharian bisa jadi tugas besar bagi orang tua untuk menjaga mood anak.
Namun, kini tidak usah khawatir karena Psikolog Vera Itabiliana Hadiwidjojo membagikan tipnya.

Menurut Vera, yang paling penting untuk mengajak anak ke luar rumah adalah rangkaian persiapan sebelum terjadi drama anak rewel saat masih enak berbincang dengan saudara. Hal ini terutama berlaku untuk anak balita.

Pertama, kenali bagaimana karakter anak. Apakah dia akan mudah rewel jika terlalu lama sehingga orang tua dapat membatasi lamanya kunjungan.

“Siapkan amunisi, terutama ketika Anda yang bertandang ke rumah orang lain. Amunisi ini berupa mainan kesukaan anak yang dapat dikeluarkan ketika anak terlihat mulai bosan dan bisa juga berupa makanan ringan favorit anak jika ternyata di sana tidak ada makanan yang sesuai dengan selera anak,” kata Vera.
 
Kedua,  bahas situasinya sedetil mungkin. Sebutkan siapa saja yang akan ditemui anak, di ruangan mana mereka akan berada, sampai apakah ada anak lain atau tidak. Hal ini bertujuan agar anak mendapatkan gambaran tentang apa yang akan dialaminya.

Ketiga, tidak perlu memaksa anak untuk langsung berbaur dengan saudara. Bertemu dengan orang baru atau dengan orang yang sudah lama tak bertemu, membuat anak merasakan jarak sehingga dia berperilaku menarik diri. Yang sering terjadi, anak menolak untuk bersalaman. Sementara di sisi lain, orangtuanya memaksa. Sebenarnya tidak mau salaman bukan artinya anak tidak menghormati atau semacamnya.

“Hal ini semata karena dia belum nyaman dengan orang yang dia temui. Pahami ini dan hindari memaksa anak. Anda dapat berikan pilihan pada anak. Ya sudah, tos atau hi-five saja kalau tidak mau salaman. Atau katakan, ya sudah, belum mau salaman sekarang ya, tapi nanti pulangnya mau ya,” jelasnya. lifestyle.bisnis.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bayi Sembelit, Coba Tips Ini Bunda

Kemungkinan Penyebab Bayi Sembelit. BAB pada anak memang bergantung pada asupan makanan yang diberikan. Jika memang asupannya sedikit maka BAB-nya juga menjadi jarang dan jika telah mengkonsumsi susu formula maka akan mempengaruhi frekuensi BAB anak. Bayi yang disusui ASI memiliki tinja yang lebih lunak, sehingga gerakan usus menjadi lebih mudah, dan memiliki kadar hormon tertentu lebih tinggi sehingga ada peningkatan gerakan usus. Sedangkan susu formula lebih sulit untuk dicerna, umumnya gerakan usus pada bayi-bayi ini lebih lambat sehingga mengakibatkan BAB lebih jarang, tinjanya lebih tebal. Selain itu jika frekuensi masuknya susu juga kurang, bayi cenderung lebih sulit BAB.

Selain itu, memang wajar terjadi perubahan dalam frekuensi BAB bayi dengan semakin bertambahnya usia bayi, hal tersebut menunjukkan bahwa seluruh produk yang masuk ke dalam tubuh dapat terserap oleh sistem pencernaan bayi. Tidak ada batas waktu yang dapat dijadikan patokan waktu yang normal bagi bayi untuk BAB…

Cegah Kasus Balita Stunting (Kerdil) dengan Konsumsi Ikan

Makan ikan belum menjadi sebuah kebiasaan bagi masyarakatnya. Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek mengatakan kenyataan tersebut dibarengi dengan data dari Kementerian Kesehatan yang menunjukkan masih tingginya angka balita yang mengalami stunting.
Stunting merupakan kondisi perkembangan tinggi badan yang tidak optimal, yang akhirnya berdampak kualitas kecerdasan menjadi tidak seperti yang diharapkan. Data pemantauan status gizi pada 2016 menunjukkan jumlah balita stunting mencapai 27,5 persen. Rinciannya, sangat pendek 8,5 persen dan pendek 19 persen. Sedangkan target Badan Kesehatan Dunia (WHO) adalah di bawah 20 persen. “Masalah stunting ini serius. Bayangkan, dari 10 anak, 4 di antaranya tidak cerdas. Ini bukan yang kita inginkan. Kita ingin anak-anak Indonesia menjadi sehat dan cerdas,” kata Menteri Kesehatan.

Data tersebut juga menyebutkan kasus balita stunting ditemukan di sebagian wilayah Indonesia, terutama di wilayah Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan, dan Papua. Padahal di sa…

Hati-hati 5 Hal Ini Bisa Jadi Tanda Kanker pada Anak

Sebanyak 16.291 anak umur 0-14 tahun di Indonesia mengidap kanker anak berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013. Upaya penyembuhan kanker bisa diupayakan asalkan bisa ditemukan dalam fase yang masih dini.

Memang sulit, karena anak sulit untuk mengungkapkan keluhan mereka. Tapi bukan berarti tidak bisa sembuh kok.

"Survivor adalah bukti bahwa mereka bisa sembuh, jadi stigma kanker tidak bisa disembuhkan itu mungkin dulu ya. Sekarang masyarakat sudah mulai melek, karena mungkin dibantu dari media masa yang memberikan informasi gejalanya," kata dr Endang Windiastuti, SpA(K) disela Roadshow Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI) di Manado, Sulawesi Utara.

Nah, karena itu, yuk kenali beberapa gejala yang harus diwaspadai. Ketika menemukan ciri berikut pada anak Anda, jangan segan untuk segera melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

1 Berat badan tidak kunjung naik
Anak harus mengalami tumbuh dan kembang, itu berarti anak harus mengalami kenaikan berat badan. …