Langsung ke konten utama

Ternyata Sekali-kali Bunda harus Biarkan Anak Merasa Bosan, Ini Alasannya

Setiap orangtua memiliki caranya sendiri dalam membesarkan anak. Namun terkadang tanpa disadari ada beberapa pergerakan kecil yang membuat pola asuh Anda melenceng dari tujuan. Pola asuh menentukan pembentukan karakter si kecil hingga saat ia dewasa nanti. Jika Anda salah menerapkannya, maka harapan Anda bisa saja tak terwujud.

Kesalahan pola asuh apa saja yang sering dilakukan orangtua? Simak ulasannya dilansir dari Popsugar, Senin (5/6/2017):

1. Tidak membiarkan anak merasa bosan

Banyak orangtua berpikir bahwa anaknya harus terus di-stimulasi setiap waktu dan menghindari rasa bosan melanda. Padahal, jika anak-anak tidak pernah merasa bosan, maka dia tidak akan menemukan pemikiran kreatifnya sendiri. Dia hanya terstimulasi oleh arahan-arahan Anda.

2. Tidak membacakan dongeng

Dengan beragam konten menarik dalam video, mungkin Anda berpikir anak-anak akan lebih tertarik. Mungkin ini tidak sepenuhnya salah. Tetapi video tidak bisa merangsang imajinasi anak karena dia langsung disajikan dengan visual yang dibentuk oleh orang lain. Sedangkan jika Anda membacakan dongeng, dia akan fokus dan berimajinasi dengan pikirannya sendiri tentang perkiraan visual dari cerita tersebut.

3. Mengambil dot terlalu cepat

Mungkin Anda tidak ingin si kecil terus ketagihan menghisap dot sehingga memilih mengambil dan memisahkannya terlalu cepat. Tapi ingatlah, jika Anda membatasi dot di usia yang terlalu muda, ini bisa membuat si kecil merasa sedih. Bahkan, sampai dewasa dia bisa memiliki kebiasaan menghisap jempol diam-diam. Tentu saja ini bisa membuat Anda dan si kecil malu jika sampai diketahui teman-teman atau lingkungan.

4. Memukul pantat anak di atas 5 tahun

Memukul pantat anak sebagai hukuman dianggap orangtua sebagai salah satu cara membuat anak menjadi disiplin. Tapi ini justru dapat membuat anak menjadi marah, melawan, berbohong, takut, atau menurut karena rasa takutnya. Sumber: okezone.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bayi Sembelit, Coba Tips Ini Bunda

Kemungkinan Penyebab Bayi Sembelit. BAB pada anak memang bergantung pada asupan makanan yang diberikan. Jika memang asupannya sedikit maka BAB-nya juga menjadi jarang dan jika telah mengkonsumsi susu formula maka akan mempengaruhi frekuensi BAB anak. Bayi yang disusui ASI memiliki tinja yang lebih lunak, sehingga gerakan usus menjadi lebih mudah, dan memiliki kadar hormon tertentu lebih tinggi sehingga ada peningkatan gerakan usus. Sedangkan susu formula lebih sulit untuk dicerna, umumnya gerakan usus pada bayi-bayi ini lebih lambat sehingga mengakibatkan BAB lebih jarang, tinjanya lebih tebal. Selain itu jika frekuensi masuknya susu juga kurang, bayi cenderung lebih sulit BAB.

Selain itu, memang wajar terjadi perubahan dalam frekuensi BAB bayi dengan semakin bertambahnya usia bayi, hal tersebut menunjukkan bahwa seluruh produk yang masuk ke dalam tubuh dapat terserap oleh sistem pencernaan bayi. Tidak ada batas waktu yang dapat dijadikan patokan waktu yang normal bagi bayi untuk BAB…

Cegah Kasus Balita Stunting (Kerdil) dengan Konsumsi Ikan

Makan ikan belum menjadi sebuah kebiasaan bagi masyarakatnya. Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek mengatakan kenyataan tersebut dibarengi dengan data dari Kementerian Kesehatan yang menunjukkan masih tingginya angka balita yang mengalami stunting.
Stunting merupakan kondisi perkembangan tinggi badan yang tidak optimal, yang akhirnya berdampak kualitas kecerdasan menjadi tidak seperti yang diharapkan. Data pemantauan status gizi pada 2016 menunjukkan jumlah balita stunting mencapai 27,5 persen. Rinciannya, sangat pendek 8,5 persen dan pendek 19 persen. Sedangkan target Badan Kesehatan Dunia (WHO) adalah di bawah 20 persen. “Masalah stunting ini serius. Bayangkan, dari 10 anak, 4 di antaranya tidak cerdas. Ini bukan yang kita inginkan. Kita ingin anak-anak Indonesia menjadi sehat dan cerdas,” kata Menteri Kesehatan.

Data tersebut juga menyebutkan kasus balita stunting ditemukan di sebagian wilayah Indonesia, terutama di wilayah Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan, dan Papua. Padahal di sa…

Hati-hati 5 Hal Ini Bisa Jadi Tanda Kanker pada Anak

Sebanyak 16.291 anak umur 0-14 tahun di Indonesia mengidap kanker anak berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013. Upaya penyembuhan kanker bisa diupayakan asalkan bisa ditemukan dalam fase yang masih dini.

Memang sulit, karena anak sulit untuk mengungkapkan keluhan mereka. Tapi bukan berarti tidak bisa sembuh kok.

"Survivor adalah bukti bahwa mereka bisa sembuh, jadi stigma kanker tidak bisa disembuhkan itu mungkin dulu ya. Sekarang masyarakat sudah mulai melek, karena mungkin dibantu dari media masa yang memberikan informasi gejalanya," kata dr Endang Windiastuti, SpA(K) disela Roadshow Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI) di Manado, Sulawesi Utara.

Nah, karena itu, yuk kenali beberapa gejala yang harus diwaspadai. Ketika menemukan ciri berikut pada anak Anda, jangan segan untuk segera melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

1 Berat badan tidak kunjung naik
Anak harus mengalami tumbuh dan kembang, itu berarti anak harus mengalami kenaikan berat badan. …