Langsung ke konten utama

Saat Perut si Kecil Kembung, Amankah Mengobatinya dengan Bawang Merah? Ini Penjelasan Medisnya

Bawang merah kerap jadi obat alami untuk mengatasi kembung pada anak. Bawang merah dianggap sebagai penghangat tubuh natural dan bisa memberi efek nyaman pada anak kita. Tapi, amankah meredakan perut kembung dengan menggunakan bawang merah?
Menurut Prof. Dr. Badriul Hegar, Ph.D., Sp.A(K), bawang merah belum terbukti secara medis bisa mengobati kembung yang diderita anak.

“Secara evidence klinis belum ada. Namun yang jelas, bawang merah tidak membahayakan kesehatan ketika digunakan untuk meredakan kembung,” jelasnya.
Bawang merah bisa membantu stimulasi saluran cerna, terutama ketika dalam kondisi kembung. Biasanya para ibu akan membalurkan bawang merah pada perut anak, dan terkadang disertai dengan pijatan-pijatan lembut di area perut.
"Meskipun tak memiliki efek samping dan tidak membahayakan kesehatan, namun bau bawang tentunya membuat anak tak nyaman,” jelas Prof. Hegar.

Solusinya, menurut Prof. Hegar, adalah dengan menggunakan minyak telon yang juga berfungsi sama. Memberikan pijatan-pijatan lembut di area perut juga diperbolehkan, namun ada caranya.
“Caranya, balur minyak di perut dan berikan massage searah jarum jam atau mengikuti saluran cerna,” jelasnya.

Lalu, balurkan pada perut atau bagian lain tubuh anak, setidaknya tiga kali dalam sehari yaitu saat sehabis mandi pagi, sehabis mandi sore, dan sebelum tidur.
"Jangan lupa, saat pertama kali menggunakan minyak, coba oleskan dulu pada bagian tangan anak, untuk menguji apakah anak memiliki alergi atau tidak,” tutupnya. Sumber: Tribunnews.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bayi Sembelit, Coba Tips Ini Bunda

Kemungkinan Penyebab Bayi Sembelit. BAB pada anak memang bergantung pada asupan makanan yang diberikan. Jika memang asupannya sedikit maka BAB-nya juga menjadi jarang dan jika telah mengkonsumsi susu formula maka akan mempengaruhi frekuensi BAB anak. Bayi yang disusui ASI memiliki tinja yang lebih lunak, sehingga gerakan usus menjadi lebih mudah, dan memiliki kadar hormon tertentu lebih tinggi sehingga ada peningkatan gerakan usus. Sedangkan susu formula lebih sulit untuk dicerna, umumnya gerakan usus pada bayi-bayi ini lebih lambat sehingga mengakibatkan BAB lebih jarang, tinjanya lebih tebal. Selain itu jika frekuensi masuknya susu juga kurang, bayi cenderung lebih sulit BAB.

Selain itu, memang wajar terjadi perubahan dalam frekuensi BAB bayi dengan semakin bertambahnya usia bayi, hal tersebut menunjukkan bahwa seluruh produk yang masuk ke dalam tubuh dapat terserap oleh sistem pencernaan bayi. Tidak ada batas waktu yang dapat dijadikan patokan waktu yang normal bagi bayi untuk BAB…

Cegah Kasus Balita Stunting (Kerdil) dengan Konsumsi Ikan

Makan ikan belum menjadi sebuah kebiasaan bagi masyarakatnya. Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek mengatakan kenyataan tersebut dibarengi dengan data dari Kementerian Kesehatan yang menunjukkan masih tingginya angka balita yang mengalami stunting.
Stunting merupakan kondisi perkembangan tinggi badan yang tidak optimal, yang akhirnya berdampak kualitas kecerdasan menjadi tidak seperti yang diharapkan. Data pemantauan status gizi pada 2016 menunjukkan jumlah balita stunting mencapai 27,5 persen. Rinciannya, sangat pendek 8,5 persen dan pendek 19 persen. Sedangkan target Badan Kesehatan Dunia (WHO) adalah di bawah 20 persen. “Masalah stunting ini serius. Bayangkan, dari 10 anak, 4 di antaranya tidak cerdas. Ini bukan yang kita inginkan. Kita ingin anak-anak Indonesia menjadi sehat dan cerdas,” kata Menteri Kesehatan.

Data tersebut juga menyebutkan kasus balita stunting ditemukan di sebagian wilayah Indonesia, terutama di wilayah Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan, dan Papua. Padahal di sa…

Hati-hati 5 Hal Ini Bisa Jadi Tanda Kanker pada Anak

Sebanyak 16.291 anak umur 0-14 tahun di Indonesia mengidap kanker anak berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013. Upaya penyembuhan kanker bisa diupayakan asalkan bisa ditemukan dalam fase yang masih dini.

Memang sulit, karena anak sulit untuk mengungkapkan keluhan mereka. Tapi bukan berarti tidak bisa sembuh kok.

"Survivor adalah bukti bahwa mereka bisa sembuh, jadi stigma kanker tidak bisa disembuhkan itu mungkin dulu ya. Sekarang masyarakat sudah mulai melek, karena mungkin dibantu dari media masa yang memberikan informasi gejalanya," kata dr Endang Windiastuti, SpA(K) disela Roadshow Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI) di Manado, Sulawesi Utara.

Nah, karena itu, yuk kenali beberapa gejala yang harus diwaspadai. Ketika menemukan ciri berikut pada anak Anda, jangan segan untuk segera melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

1 Berat badan tidak kunjung naik
Anak harus mengalami tumbuh dan kembang, itu berarti anak harus mengalami kenaikan berat badan. …