Langsung ke konten utama

Kalau si Kecil Tak Mau Makan Nasi, Buatkan Saja Mie Enak dengan Panduan Ini

Saat si kecil bosan makan nasi, Anda bisa berikan mie. Tapi, agar lebih sehat tentu perlu memperhatikan beberapa hal.

Mie merupakan jenis karbohidrat pengganti nasi. Asalkan tidak memberikan mie instan, si kecil bisa dengan leluasa konsumsi mie. Tentunya dengan racikan yang lebih sehat.
 
Gizi seimbang bisa didapatkan dengan cara mengonsumsi semua jenis bahan makanan dengan porsi yang tepat. Mie bisa jadi pilihan gizi seimbang asalkan diolah dengan cara ini.

1. Pilih mie

Mie ada banyak jenisnya. Mie telur ataupun bihun jadi salah satu yang bisa Anda berikan pada si kecil. Selain membelinya dalam bentuk kering, Anda juga bisa membuatnya sendiri dengan campuran tepung terigu, telur dan garam. Rebus mie dan buang airnya, untuk menghilangkan sedikit pengawet ataupun pewarna yang ada dari mie.

2. Bumbu alami

Jangan menggunakam bumbu instan. Sebaiknya racik mie dengan campuran bumbu alami. Campuran antara bawang putih, bawang merah, saus tiram, kecap manis, lada dan juga garam. Bumbu ini bisa jadi campuran dasar pembuatan mie rebus ataupun mie goreng.
 
3. Tambahkan protein

Protein seperti telur, daging ayam dan daging sapi sangat penting untuk si kecil. Telur, aneka bakso dan seafood juga bisa jadi alternatif. Protein sangat penting untuk membangun sel dan jaringan tubuh si kecil. Dengan cukupnya protein, perkembangan si kecil juga akan optimal.

4. Tambahkan sayur

Sayur perlu dikonsumsi setiap hari. Sayur mengandung serat dan juga mineral yang sangat penting untuk membantu Jaga sistem imunitas dan lancarkan pancernaan. Wortel, bayam dan juga sawi bisa dicampurkan dalam mie.

Ingin membuat sajian mie yang enak dan sehat di rumah, Anda bisa lihat beberapa resep dari detikFood seperti mie kocok telur serta mie goreng sayuran. food.detik.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bayi Sembelit, Coba Tips Ini Bunda

Kemungkinan Penyebab Bayi Sembelit. BAB pada anak memang bergantung pada asupan makanan yang diberikan. Jika memang asupannya sedikit maka BAB-nya juga menjadi jarang dan jika telah mengkonsumsi susu formula maka akan mempengaruhi frekuensi BAB anak. Bayi yang disusui ASI memiliki tinja yang lebih lunak, sehingga gerakan usus menjadi lebih mudah, dan memiliki kadar hormon tertentu lebih tinggi sehingga ada peningkatan gerakan usus. Sedangkan susu formula lebih sulit untuk dicerna, umumnya gerakan usus pada bayi-bayi ini lebih lambat sehingga mengakibatkan BAB lebih jarang, tinjanya lebih tebal. Selain itu jika frekuensi masuknya susu juga kurang, bayi cenderung lebih sulit BAB.

Selain itu, memang wajar terjadi perubahan dalam frekuensi BAB bayi dengan semakin bertambahnya usia bayi, hal tersebut menunjukkan bahwa seluruh produk yang masuk ke dalam tubuh dapat terserap oleh sistem pencernaan bayi. Tidak ada batas waktu yang dapat dijadikan patokan waktu yang normal bagi bayi untuk BAB…

Cegah Kasus Balita Stunting (Kerdil) dengan Konsumsi Ikan

Makan ikan belum menjadi sebuah kebiasaan bagi masyarakatnya. Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek mengatakan kenyataan tersebut dibarengi dengan data dari Kementerian Kesehatan yang menunjukkan masih tingginya angka balita yang mengalami stunting.
Stunting merupakan kondisi perkembangan tinggi badan yang tidak optimal, yang akhirnya berdampak kualitas kecerdasan menjadi tidak seperti yang diharapkan. Data pemantauan status gizi pada 2016 menunjukkan jumlah balita stunting mencapai 27,5 persen. Rinciannya, sangat pendek 8,5 persen dan pendek 19 persen. Sedangkan target Badan Kesehatan Dunia (WHO) adalah di bawah 20 persen. “Masalah stunting ini serius. Bayangkan, dari 10 anak, 4 di antaranya tidak cerdas. Ini bukan yang kita inginkan. Kita ingin anak-anak Indonesia menjadi sehat dan cerdas,” kata Menteri Kesehatan.

Data tersebut juga menyebutkan kasus balita stunting ditemukan di sebagian wilayah Indonesia, terutama di wilayah Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan, dan Papua. Padahal di sa…

Hati-hati 5 Hal Ini Bisa Jadi Tanda Kanker pada Anak

Sebanyak 16.291 anak umur 0-14 tahun di Indonesia mengidap kanker anak berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013. Upaya penyembuhan kanker bisa diupayakan asalkan bisa ditemukan dalam fase yang masih dini.

Memang sulit, karena anak sulit untuk mengungkapkan keluhan mereka. Tapi bukan berarti tidak bisa sembuh kok.

"Survivor adalah bukti bahwa mereka bisa sembuh, jadi stigma kanker tidak bisa disembuhkan itu mungkin dulu ya. Sekarang masyarakat sudah mulai melek, karena mungkin dibantu dari media masa yang memberikan informasi gejalanya," kata dr Endang Windiastuti, SpA(K) disela Roadshow Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI) di Manado, Sulawesi Utara.

Nah, karena itu, yuk kenali beberapa gejala yang harus diwaspadai. Ketika menemukan ciri berikut pada anak Anda, jangan segan untuk segera melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

1 Berat badan tidak kunjung naik
Anak harus mengalami tumbuh dan kembang, itu berarti anak harus mengalami kenaikan berat badan. …