Langsung ke konten utama

Fakta Seputar Antibiotika, No 3 sangat Sering Disepelekan Para Orang Tua

Antibiotika berasal dari bahasa Yunani yang artinya anti (melawan) dan bios (hidup –karena bakteri adalah salah satu bentuk makhluk hidup). Ditemukan oleh Alexander Flemming pada tahun 1929. Antibiotika adalah golongan senyawa, baik alami mau pun sintetis, yang berfungsi untuk menekan pertumbuhan mikroorganisme bakteri. Itu sebabnya mengapa antibiotika digunakan untuk mengobati penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri, bukan untuk menghentikan penyakit akibat infeksi virus.

1. Untuk apa saja antibiotika diperlukan?
 
Antibiotika digunakan untuk mengobati penyakit infeksi yang disebabkan bakteri. Jadi, ketika anak sakit, penting untuk mengetahui apakah penyakitnya disebabkan oleh virus atau bakteri.

2. Kenapa antibiotika tidak selalu diperlukan?

Karena tidak semua penyakit disebabkan bakteri. Sebagian besar infeksi harian (penyakit langganan) disebabkan oleh virus, seperti batuk pilek, selesma, flu, atau diare tanpa darah (diare akut cair), sehingga TIDAK butuh antibiotik. Antibiotika tidak bisa mempercepat penyembuhan penyakit karena infeksi virus.

3. Apa bahayanya, jika anak terlalu sering minum antibiotika?
 
Terlalu sering mengonsumsi antibiotik dengan tidak tepat sangat berbahaya, karena antibiotika bisa menyerang bakteri baik dalam tubuh dan mengubah bakteri baik tersebut menjadi bakteri jahat. Selain itu, bakteri juga bisa menjadi resisten (kebal) terhadap antibiotika. Dampak ini tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga berdampak terhadap semua orang (dampak komunitas). Untuk individu, antibiotika tidak lagi bisa bekerja efektif karena kuman yang sudah resisten alias kebal tidak lagi mati, sehingga pasien menderita sakit yang lebih berat, lebih lama, terpapar risiko toksisitas (efek samping obat yang berat), dengan risiko kematian yang lebih tinggi, serta biaya pengobatan yang lebih mahal.

4. Benarkah antibiotika berbahaya untuk organ tubuh, seperti lambung dan gigi?
 
Seperti juga obat-obatan lainnya, konsumsi antibiotika juga memiliki efek samping. Berikut ini adalah efek samping yang paling umum terjadi dari penggunaan antibiotika:
- Gangguan saluran cerna
- Reaksi alergi
- Demam
- Gangguan darah
- Kelainan hati
- Gangguan fungsi ginjal

5. Jika si kecil sakit, benarkah akan lebih cepat sembuh dengan antibiotika?

Mitos mengenai antibiotika yang sering ditemui di Indonesia adalah antibiotika merupakan obat sakti yang bisa menyembuhkan semua jenis penyakit lebih cepat daripada kalau tidak menggunakan antibiotika. Sehingga, sering kali antibiotika digunakan untuk penyakit karena infeksi virus, seperti flu, selesma atau diare akut cair.  Padahal, antibiotika sama sekali tidak efektif untuk penyakit akibat virus (sama sekali tidak bermanfaat, bahkan bisa merugikan!). Penggunaan antibiotika yang tidak tepat, termasuk pemilihan jenis antibiotika, cara dan lama pemberiannya, membuat bakteri menjadi resisten, serta makin sering konsumsi antibiotika akan makin sering jatuh sakit.

6. Bolehkah kita ‘menawar’ dengan dokter soal antibiotika ini?
 
Kesehatan kita dan anak kita merupakan tanggung jawab kita. Urusan kesehatan seharusnya tidak diserahkan sepenuhnya pada tenaga kesehatan. Ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk menjadi pasien yang cerdas dan mitra sejajar bagi dokter dalam penanganan kesehatan.
Disarankan untuk setidaknya menanyakan 3 hal berikut ketika berkonsultasi ke dokter:
1.Masalah penyebab (apa diagnosisnya).
2.Apa yang harus dilakukan? Mengapa? Hal ini terkait rencana tatalaksana atau treatment plan.
3.Kapan harus cemas? Kapan harus ke dokter? Kapan harus rawat inap?

Bila diresepkan obat, disarankan juga untuk menanyakan hal ini:
1.Apakah benar-benar butuh obat?
2.Berapa jumlah obatnya?
3. Minta informasi yang menjadi hak pasien

7. Sampai kapan si kecil minum antibiotika?
 
Kalau memang anak didiagnosis menderita penyakit akibat infeksi bakteri dan
membutuhkan antibiotika, antibiotika harus diberikan sesuai panduan penyakit tersebut, tepat berdasarkan diagnosis, dengan pilihan antibiotika yang tepat, serta dosis dan aturan yang tepat pula.

8. Apa akibatnya jika ia tidak menuntaskannya?
 
Ketika anak mengalami sakit akibat infeksi bakteri jahat, ia harus ‘membasmi’ bakteri
jahat tersebut sesuai panduan (guideline) yang sudah disusun dunia kedokteran. Jika
tidak dituntaskan (misalnya karena merasa sudah lebih baik), kemungkinan besar bakteri tersebut akan menjadi resisten. Jadi, sangat penting untuk tetap mengonsumsi antibiotika sesuai panduan penyakit dan tidak menghentikannya semata-mata karena merasa kondisi tubuh sudah membaik.
Misalnya, saat terkena infeksi bakteri TB, konsumsi antibiotika dilakukan selama 6 bulan. Atau, ketika mengalami infeksi saluran kemih (ISK), konsumsi antibiotika dilakukan selama 7 hari meski keluhan gangguan berkemih sudah terasa membaik.

9. Apa obat gantinya, jika si kecil menolak antibiotika? Obat racikan?
 
Ketika terbukti mengalami infeksi bakteri jahat, misalnya ISK, antibiotika harus diberikan secara tepat. Untuk anak,pilihannya adalah dalam bentuk sirup. Ketika ia menolak, Anda harus putar akal untuk membuatnya lebih ‘tolerable’ bagi anak. Misalnya, menambahkan sedikit gula bubuk, madu (pada anak di atas usia 1 tahun), parutan buah, dll. Tidak perlu atau jangan diganti ke bentuk racikan (puyer).

10. Apa solusinya, jika anak alergi antibiotika?
 
Diskusikan dengan dokter Anda. Pastikan memang telah terjadi reaksi alergi. Jika pasti terjadi reaksi hipersensitivitas terhadap suatu antibiotika, itu harus dicatat dan dihindari pemakaiannya di kemudian hari.
Sumber: ayahbunda.co.id

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bayi Sembelit, Coba Tips Ini Bunda

Kemungkinan Penyebab Bayi Sembelit. BAB pada anak memang bergantung pada asupan makanan yang diberikan. Jika memang asupannya sedikit maka BAB-nya juga menjadi jarang dan jika telah mengkonsumsi susu formula maka akan mempengaruhi frekuensi BAB anak. Bayi yang disusui ASI memiliki tinja yang lebih lunak, sehingga gerakan usus menjadi lebih mudah, dan memiliki kadar hormon tertentu lebih tinggi sehingga ada peningkatan gerakan usus. Sedangkan susu formula lebih sulit untuk dicerna, umumnya gerakan usus pada bayi-bayi ini lebih lambat sehingga mengakibatkan BAB lebih jarang, tinjanya lebih tebal. Selain itu jika frekuensi masuknya susu juga kurang, bayi cenderung lebih sulit BAB.

Selain itu, memang wajar terjadi perubahan dalam frekuensi BAB bayi dengan semakin bertambahnya usia bayi, hal tersebut menunjukkan bahwa seluruh produk yang masuk ke dalam tubuh dapat terserap oleh sistem pencernaan bayi. Tidak ada batas waktu yang dapat dijadikan patokan waktu yang normal bagi bayi untuk BAB…

Cegah Kasus Balita Stunting (Kerdil) dengan Konsumsi Ikan

Makan ikan belum menjadi sebuah kebiasaan bagi masyarakatnya. Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek mengatakan kenyataan tersebut dibarengi dengan data dari Kementerian Kesehatan yang menunjukkan masih tingginya angka balita yang mengalami stunting.
Stunting merupakan kondisi perkembangan tinggi badan yang tidak optimal, yang akhirnya berdampak kualitas kecerdasan menjadi tidak seperti yang diharapkan. Data pemantauan status gizi pada 2016 menunjukkan jumlah balita stunting mencapai 27,5 persen. Rinciannya, sangat pendek 8,5 persen dan pendek 19 persen. Sedangkan target Badan Kesehatan Dunia (WHO) adalah di bawah 20 persen. “Masalah stunting ini serius. Bayangkan, dari 10 anak, 4 di antaranya tidak cerdas. Ini bukan yang kita inginkan. Kita ingin anak-anak Indonesia menjadi sehat dan cerdas,” kata Menteri Kesehatan.

Data tersebut juga menyebutkan kasus balita stunting ditemukan di sebagian wilayah Indonesia, terutama di wilayah Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan, dan Papua. Padahal di sa…

Hati-hati 5 Hal Ini Bisa Jadi Tanda Kanker pada Anak

Sebanyak 16.291 anak umur 0-14 tahun di Indonesia mengidap kanker anak berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013. Upaya penyembuhan kanker bisa diupayakan asalkan bisa ditemukan dalam fase yang masih dini.

Memang sulit, karena anak sulit untuk mengungkapkan keluhan mereka. Tapi bukan berarti tidak bisa sembuh kok.

"Survivor adalah bukti bahwa mereka bisa sembuh, jadi stigma kanker tidak bisa disembuhkan itu mungkin dulu ya. Sekarang masyarakat sudah mulai melek, karena mungkin dibantu dari media masa yang memberikan informasi gejalanya," kata dr Endang Windiastuti, SpA(K) disela Roadshow Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI) di Manado, Sulawesi Utara.

Nah, karena itu, yuk kenali beberapa gejala yang harus diwaspadai. Ketika menemukan ciri berikut pada anak Anda, jangan segan untuk segera melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

1 Berat badan tidak kunjung naik
Anak harus mengalami tumbuh dan kembang, itu berarti anak harus mengalami kenaikan berat badan. …