Langsung ke konten utama

Cara Memperlakukan Anak yang Berperilaku Kasar

Tidak ada hal yang lebih menjengkelkan ketika melihat seorang anak bersikap kasar terhadap temannya atau orang lain. Kekasaran adalah ketika seseorang mengatakan atau melakukan sesuatu yang tidak semestinya dan tidak menyenangkan bagi orang lain, sehingga enggan berada di dekatnya.
 

Bersikap kasar adalah suatu tindakan yang tidak pantas, memalukan, dan menjengkelkan. Kita perlu belajar mengatasi hal ini, karena semakin hari semakin banyak contoh bagaimana seseorang bersikap dan bertindak kasar dalam merespon sesuatu. Dan itu bukanlah contoh yang baik untuk dilihat oleh anak-anak kita.

Disinilah peran orangtua untuk mengarahkan perilaku anak agar agar hal tersebut tidak menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Orangtua harus bisa memberikan kendali terhadap ekspresi emosi anak, dan menuntunnya ke arah yang positif dan bermanfaat. Sebenarnya ada dua hal yang menjadi alasan utama mengapa seorang anak bertindak kasar.

1. Ketidaktahuan

etidaktahuan dapat menyebabkan seorang anak bertindak kasar, karena mereka tidak tahu bagaimana cara merespon suatu situasi dengan baik. Emosi negatif cepat sekali menguasai hati dan pikirannya, sehingga respon kasar dalam bentuk perilaku dan ucapan bergerak cepat untuk dimunculkan. Ketidaktahuan disini bisa juga dapat diartikan kurangnya pemahaman dalam berperilaku baik.

2. Bersikap Egois

Kita hidup di dunia yang mencintai “diri sendiri”. Budaya di sekeliling kita mengajarkan kita untuk berfokus pada penampilan, perasaan, dan keinginan pribadi sebagai prioritas utamanya. Tujuannya adalah mencapai kebahagiaan setinggi mungkin, namun pola ini sangat berbahaya dalam hubungan berelasi satu sama lainnya.
 

Sayangnya pemahaman ini sudah tertanam dalam diri manusia sejak dia lahir. Anda bisa melihat bagaimana seorang anak berperilaku egois dalam kepolosannya, tetapi pada orang yang dewasa sikap egois sering muncul sebagai sikap yang menyakiti.

Mengapa kita memiliki standar yang begitu rendah untuk diri sendiri, tetapi pengharapan yang tinggi terhadap orang lain? Dan jawaban untuk hal ini, bagaikan pil pahit yang harus ditelan. Karena kita mementingkan diri sendiri. Lalu bagaimana cara mengatasi anak yang bersikap kasar?

Kedua hal tersebut bukanlah sesuatu yang baik. Seorang anak lahir tanpa mengetahui etika yang baik, mereka perlu belajar dan berlatih untuk bersikap baik secara terus menerus.

Seperti kata bijak berikut:

“Dalam ilmu bertanam, jika anda ingin mengubah buahnya, modifikasi harus dimulai dari akarnya. Begitu juga dalam diri seseorang. Untuk bisa mengubah apa yang tampak dari luar, yaitu perilaku dan tindakan kita. Pertama-tama kita harus mengubah apa yang ada di dalam diri kita. Sesuatu yang tidak tampak, yaitu pola pikir dan cara pandang kita” ~ T. Harv Eker

Jika kita paham akar penyebabnya, maka atasi hal tersebut dari akarnya.

1. Atasi Ketidaktahuannya

Pada dasarnya seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa tidak ada orang yang senang atau berada dekat dengan orang yang kasar, termasuk orang yang terbiasa bersikap kasar. Oleh karena itu seseorang perlu tahu dan memegang 3 prinsip dalam berhubungan dengan sesamanya. Berikut ini prinsipnya:
  • Perlakukan sesama anda sebagai mana anda ingin diperlakukan
  • Belajar dan upayakan mau mengerti, bertenggang rasa kepada orang lain, terutama kepada keluarga.
  • Belajar berkomitmen. Untuk bisa mengkontrol cara berperilaku dan berbicara, cobalah evaluasi dalam lingkungan keluarga. Karena jika anda mulai dari luar keluarga, terkadang orang lain tidak bisa menerima perilaku tersebut dan memancing keributan.
2. Disiplin Mengatasi Egois Yang Berlebihan

Egois adalah perasaan di dalam hati, sama seperti perasaan benci, cinta, marah dan takut. Egois muncul dalam bentuk perilaku yang mementingkan diri sendiri, sedangkan cinta muncul dengan perilaku perhatian dan memberi. Begitu juga dengan takut, akan muncul dalam bentuk perilaku menghindar atau menutup diri.

Pada dasarnya perasaan di dalam hati dapat diperintah. Benar, anda tidak salah baca. Perasaan dapat diperintah. Pernahkah anda marah kepada seseorang lalu bertemu di suatu tempat, dan kemudian rekan anda mengajaknya berbicara. Karena anda merasa “tidak enak” kalau tidak merespon baik, maka seketika ada perintah dalam diri anda yang berlangsung sehingga anda ikut merespon baik dalam percakapan tersebut.

Egois pun juga dapat diperintah, dengan belajar memberi dan mau mengalah serta sabar. Pada awalnya pasti tidak enak dan tidak biasa, tetapi jika diniatkan dengan baik pasti bisa. Ini tergantung dari disiplin dan niat perubahan.

Misalnya, dalam 1 minggu ajarkan anak untuk sengaja memberi kue kepada anggota keluarga atau teman di sekolahnya. Lalu tingkatkan hal ini secara konsisten, pasti akan membawa perubahan dalam hidupnya. Pemberian bukan hanya barang, tetapi bisa juga waktu dan tenaga. Kebiasaan baik yang dibiasakan dalam hidup anak anda, akan membentuk karakter baik dalam hidupnya. pendidikankarakter.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bayi Sembelit, Coba Tips Ini Bunda

Kemungkinan Penyebab Bayi Sembelit. BAB pada anak memang bergantung pada asupan makanan yang diberikan. Jika memang asupannya sedikit maka BAB-nya juga menjadi jarang dan jika telah mengkonsumsi susu formula maka akan mempengaruhi frekuensi BAB anak. Bayi yang disusui ASI memiliki tinja yang lebih lunak, sehingga gerakan usus menjadi lebih mudah, dan memiliki kadar hormon tertentu lebih tinggi sehingga ada peningkatan gerakan usus. Sedangkan susu formula lebih sulit untuk dicerna, umumnya gerakan usus pada bayi-bayi ini lebih lambat sehingga mengakibatkan BAB lebih jarang, tinjanya lebih tebal. Selain itu jika frekuensi masuknya susu juga kurang, bayi cenderung lebih sulit BAB.

Selain itu, memang wajar terjadi perubahan dalam frekuensi BAB bayi dengan semakin bertambahnya usia bayi, hal tersebut menunjukkan bahwa seluruh produk yang masuk ke dalam tubuh dapat terserap oleh sistem pencernaan bayi. Tidak ada batas waktu yang dapat dijadikan patokan waktu yang normal bagi bayi untuk BAB…

Cegah Kasus Balita Stunting (Kerdil) dengan Konsumsi Ikan

Makan ikan belum menjadi sebuah kebiasaan bagi masyarakatnya. Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek mengatakan kenyataan tersebut dibarengi dengan data dari Kementerian Kesehatan yang menunjukkan masih tingginya angka balita yang mengalami stunting.
Stunting merupakan kondisi perkembangan tinggi badan yang tidak optimal, yang akhirnya berdampak kualitas kecerdasan menjadi tidak seperti yang diharapkan. Data pemantauan status gizi pada 2016 menunjukkan jumlah balita stunting mencapai 27,5 persen. Rinciannya, sangat pendek 8,5 persen dan pendek 19 persen. Sedangkan target Badan Kesehatan Dunia (WHO) adalah di bawah 20 persen. “Masalah stunting ini serius. Bayangkan, dari 10 anak, 4 di antaranya tidak cerdas. Ini bukan yang kita inginkan. Kita ingin anak-anak Indonesia menjadi sehat dan cerdas,” kata Menteri Kesehatan.

Data tersebut juga menyebutkan kasus balita stunting ditemukan di sebagian wilayah Indonesia, terutama di wilayah Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan, dan Papua. Padahal di sa…

Ternyata Mudah Banget Setting Youtube agar Aman untuk Anak

Menurut studi dari Pew Research Center, saat ini ada lebih dari 60% pengguna YouTube yang mengaku masih menemukan video bermasalah berisikan perilaku kekerasan, video bohong, dan yang tidak layak konsumsi bagi anak-anak. Orangtua zaman now sebaiknya tak membiarkan anak-anak nonton YouTube tanpa pengawasan.

Begini caranya 'setting' Youtube biar aman tuk anak-anak:
Google memiliki serangkaian fitur content control baru pada update terbaru Youtube Kids. Orangtua kini bisa memilih secara manual video atau kanal mana saja yang bisa ditonton oleh anak. Google juga menyediakan koleksi video dan kanal-kanal dari sumber terpercaya. Adanya pilihan itu orangtua makin mudah menyisir tontonan pilihan tuk anaknya.

"Dari koleksi kanal milik partner terpercaya hingga memungkinkan orang tua memilih video dan kanal secara manual, kami memberikan kendali lebih kepada para orang tua," ujar Product Director YouTube Kids James Beser, dikutip Tribunstyle.com dari KompasTekno.

Orangtua jug…