Langsung ke konten utama

8 Tips Jitu Menghadapi Anak yang Rewel di Tempat Umum

Saat menghadapi anak rewel menjerit-jerit di rumah, Anda bisa memindahkannya ke ruangan lain dan mengabaikan amukannya sampai mereda sendiri. Tapi lain ceritanya jika anak tiba-tiba mengamuk saat Anda sedang di luar rumah.

Menjadi pusat perhatian orang sekitar ketika menghadapi anak yang rewel di tempat umum bukanlah pengalaman menyenangkan bagi setiap orangtua. Orang-orang sering meghakimi bahwa anak rewel adalah tanda kegagalan pola asuh orangtua. Padahal, rewel dan tantrum adalah bagian alami dari tumbuh kembang anak.

Tapi ini bukan berarti Anda malah membiarkan si kecil terus menjerit di depan umum. Dengan menggunakan sejumlah metode di bawah ini, Anda bisa menghadapi anak rewel di keramaian layaknya seorang profesional.

Bagaimana caranya menghadapi anak rewel di tempat umum?
 
1. Orangtua jangan ikut ngamuk

Memang tidak selalu mudah untuk tetap tenang dan tidak ikut terbawa emosi saat menghadapi anak rewel. Tapi memarahi si kecil justru akan memperparah emosinya. Terlebih lagi, jika Anda memberikan hukuman atas “kenakalan”nya. Ia akan mulai menyimpan amarah dan frustasinya dalam diri. Tentu hal ini tidak sehat untuk dirinya, baik secara fisik maupun mental. Oleh karena itu, sempatkan sejenak untuk menenangkan diri untuk mencegah situasi tambah memanas.

Amati apa yang jadi penyebab anak rewel. Anak-anak biasanya mengamuk saat mereka lelah, mengantuk, atau merasa tidak nyaman. Amati apa yang menjadi penyebab sebenarnya, dan atasi masalah itu.

Misalnya, jika Anda mengira amukan itu disebabkan oleh kelaparan, katakan pada anak Anda bahwa mereka boleh makan camilan setelah kembali tenang. Tapi bicaralah dengan suara lembut dan ekspresi yang tetap tenang walaupun si kecil masih saja berteriak. Jika Anda ikut berteriak atau balik mengomelinya, ia malah tambah semakin rewel.
 
2. Bicara empat mata dengan anak

Jika amukan anak muncul dari luapan rasa frustrasi, bantu anak Anda belajar mengatur emosinya dengan memberi mereka keterampilan untuk tetap mengontrol diri saat sedang merasa marah.

Dalam sebuah wawancara dengan Parenting, ahli perilaku anak William Sears mengingatkan orangtua bahwa rengekan adalah bagian dari proses belajar anak untuk mempelajari tutur kata seperti apa yang dapat membuat kebutuhannya terpenuhi dan mana yang tidak.

Sears menambahkan, cukup dengan memberi tahu si kecil untuk bilang sejujurnya pada Anda apa yang mengganggu dirinya. Misalnya, “Mama tahu kamu marah karena sudah waktunya untuk pulang. Tapi mama capek, dan kamu pasti juga capek, kan?” atau “Ayah tahu kamu ingin mainan itu dan kamu marah, kan, sama ayah karena nggak beliin kamu?”

Tutur kata jelas dan tanpa basa-basi saat berbicara dengan anak akan mewakili perasaan mereka yang sulit mereka ungkapkan. Bereaksi tenang seperti ini akan menunjukkan kepada anak bahwa jika mereka dapat mengendalikan emosi dan menggunakan kata-kata daripada air mata, Anda dapat mengatasi masalah ini bersama-sama.
 
3. Hitung sampai sepuluh

Menghitung akan memperingatkan anak Anda bahwa perilakunya tidak dapat diterima tanpa mengharuskan Anda untuk mengomelinya. Plus, waktu yang dihabiskan selama Anda berhitung bisa mengalihkan fokus si kecil untuk beralih dari merengek ke kegiatan lainnya, seperti bermain dengan mainan yang lain atau jadi keasyikan menonton tv.

Selain itu, menghitung perlahan dari 1 sampai 10 memberikan Anda “waktu rehat” di tengah pertempuran Anda dan si kecil untuk sedikit mengosongkan pikiran dan menenangkan diri. Ketika rengekan anak sudah mulai membuat darah Anda mendidih, dengan menghitung Anda jadi bisa berhenti sebentar sebelum benar-benar meledak guna memikirkan bagaimana reaksi yang pas untuk menghadapi anak rewel di situasi tersebut.
 
4. Ajak anak untuk menarik napas dalam-dalam

Layaknya orang dewasa, stres juga bisa membuat anak kecil merasa tidak nyaman dengan tubuhnya sendiri dan sekitarnya. Tapi ia bisa belajar melawan perasaan itu dengan menarik beberapa napas dalam. Di saat lainnya anak sedang tenang, ajari anak untuk mengambil napas kuat-kuat dan hembuskan seperti berpura-pura meniup lilin kue ulang tahun; Kemudian, saat Anda melihatnya mulai rewel, Anda bisa menggunakan kode sederhana seperti “tiup lilin yuk” untuk mengingatkannya agar bernapas sejenak.

Anda juga bisa mengandalkan teknik pernapasan dalam ini untuk menenangkan diri sendiri ketika menghadapi anak rewel.
 
5. Diamkan saja

Selama tantrum, balita tidak bisa berpikiran jernih. Emosinya akan mengambil alih dirinya. Mereka tidak bisa, dan tidak tahu bagaimana caranya, menangani luapan emosi ini. Kemarahan ‘menjajah’ korteks depan otak anak, area pembuat keputusan dan penilaian. Maka dari itu, membujuk tidak akan membawa hasil, apalagi memaksa atau memarahi, karena bagian otaknya yang bertugas mengatur akal sehat sedang tidak bekerja.

Jika anak rewel tanpa henti sementara Anda sedang di luar rumah atau bersama dengan orang banyak, jangan berikan reaksi apapun. Jangan berikan reaksi positif maupun negatif, bahkan tatapan mata sekalipun. Anda bisa memberi tahu orang sebelah bahwa anak Anda butuh orangtuanya, permisi, dan pamit. Tinggalkan ruangan, cari tempat sepi, pergi ke mobil, atau segera pulang ke rumah. Ingat, tujuan anak merengek tanpa sebab adalah untuk sekadar mendapatkan perhatian Anda. Jadi, jangan mudah tunduk pada amukan anak.

Sementara itu, Anda bisa main hape, baca buku, atau beristirahat sejenak. Saat ia capek merengek, baru Anda ajak bicara untuk menasihatinya atau lanjutkan berbelanja. Bukan berarti Anda orangtua yang buruk jika mengabaikan anak yang sedang tantrum. Menangis dan merengek saat tantrum sebenarnya membantu anak untuk melampiaskan emosi dengan cara yang tidak merusak. Mereka bisa mengeluarkan uneg-uneg, memulihkan diri sendiri, dan mendapatkan kembali kontrol diri, semua dengan usahanya sendiri tanpa melibatkan diri dalam adu teriak dengan Anda.
 
6. Kasih hadiah

Ketika anak-anak sukses belajar mengendalikan perilaku mereka, memberikan hadiah adalah respon yang baik. Anda bisa menggunakan “Toples Anak Baik” dan masukkan sebuah kelereng ke dalam toples saat mereka berhasil meredam amukannya sendiri, dengan menjanjikan bahwa jika toples sudah terisi 10 kelereng ia bisa menonton film kesukaannya di bioskop atau bermain selama 1 jam di area bermain anak-anak. Dengan begini, setiap lain kali anak akan mengamuk, ia akan ingat atas iming-iming “imbalan” dan berpikir seribu kali sebelum amarahnya benar-benar meledak.

Kuncinya, jangan berlebihan dalam menghadiahi anak. Salah-salah, sistem ini bisa berbalik menjadi senjata makan tuan bagi Anda.
 
7. Peluk

Saat melihat anak mengamuk, mungkin pelukan menjadi hal terakhir yang bisa Anda pikirkan. Pelukan bisa membuat anak merasa aman dan tahu bahwa Anda peduli, walaupun Anda tidak setuju dengan ulahnya. Tapi, tidak boleh sembarang pelukan. Berikan dekapan erat yang tegas, bukan pelukan sayang untuk menimang me-ninabobo-kan, dan jangan katakan apapun selama Anda mendekap si kecil sampai rengekannya mereda.
 
8. Jangan minta maaf

Ketika menghadapi anak rewel di depan umum, sebagai orangtua Anda mungkin merasa wajib untuk minta maaf pada “penonton”. Sears memperingatkan bahwa meminta maaf untuk mewakili anak Anda bisa menjadi kesalahan besar. Rewel adalah perilaku pilihan anak, sehingga anak perlu bertanggung jawab untuk meminta maaf atas kelakuannya sendiri. Entah mereka mengajukan permintaan maaf secara pribadi, atau menulis surat minta maaf, anak-anak perlu menyadari perbuatan yang menyebabkan kemarahannya.

Selama Anda menghadapi anak rewel secara konsisten efektif di rumah — yaitu dengan mengabaikan mereka dan tidak menyerah — akhirnya mereka akan bisa mengendalikan diri saat Anda berdua bepergian. Sumber: hellosehat.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bayi Sembelit, Coba Tips Ini Bunda

Kemungkinan Penyebab Bayi Sembelit. BAB pada anak memang bergantung pada asupan makanan yang diberikan. Jika memang asupannya sedikit maka BAB-nya juga menjadi jarang dan jika telah mengkonsumsi susu formula maka akan mempengaruhi frekuensi BAB anak. Bayi yang disusui ASI memiliki tinja yang lebih lunak, sehingga gerakan usus menjadi lebih mudah, dan memiliki kadar hormon tertentu lebih tinggi sehingga ada peningkatan gerakan usus. Sedangkan susu formula lebih sulit untuk dicerna, umumnya gerakan usus pada bayi-bayi ini lebih lambat sehingga mengakibatkan BAB lebih jarang, tinjanya lebih tebal. Selain itu jika frekuensi masuknya susu juga kurang, bayi cenderung lebih sulit BAB.

Selain itu, memang wajar terjadi perubahan dalam frekuensi BAB bayi dengan semakin bertambahnya usia bayi, hal tersebut menunjukkan bahwa seluruh produk yang masuk ke dalam tubuh dapat terserap oleh sistem pencernaan bayi. Tidak ada batas waktu yang dapat dijadikan patokan waktu yang normal bagi bayi untuk BAB…

Cegah Kasus Balita Stunting (Kerdil) dengan Konsumsi Ikan

Makan ikan belum menjadi sebuah kebiasaan bagi masyarakatnya. Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek mengatakan kenyataan tersebut dibarengi dengan data dari Kementerian Kesehatan yang menunjukkan masih tingginya angka balita yang mengalami stunting.
Stunting merupakan kondisi perkembangan tinggi badan yang tidak optimal, yang akhirnya berdampak kualitas kecerdasan menjadi tidak seperti yang diharapkan. Data pemantauan status gizi pada 2016 menunjukkan jumlah balita stunting mencapai 27,5 persen. Rinciannya, sangat pendek 8,5 persen dan pendek 19 persen. Sedangkan target Badan Kesehatan Dunia (WHO) adalah di bawah 20 persen. “Masalah stunting ini serius. Bayangkan, dari 10 anak, 4 di antaranya tidak cerdas. Ini bukan yang kita inginkan. Kita ingin anak-anak Indonesia menjadi sehat dan cerdas,” kata Menteri Kesehatan.

Data tersebut juga menyebutkan kasus balita stunting ditemukan di sebagian wilayah Indonesia, terutama di wilayah Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan, dan Papua. Padahal di sa…

Hati-hati 5 Hal Ini Bisa Jadi Tanda Kanker pada Anak

Sebanyak 16.291 anak umur 0-14 tahun di Indonesia mengidap kanker anak berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013. Upaya penyembuhan kanker bisa diupayakan asalkan bisa ditemukan dalam fase yang masih dini.

Memang sulit, karena anak sulit untuk mengungkapkan keluhan mereka. Tapi bukan berarti tidak bisa sembuh kok.

"Survivor adalah bukti bahwa mereka bisa sembuh, jadi stigma kanker tidak bisa disembuhkan itu mungkin dulu ya. Sekarang masyarakat sudah mulai melek, karena mungkin dibantu dari media masa yang memberikan informasi gejalanya," kata dr Endang Windiastuti, SpA(K) disela Roadshow Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI) di Manado, Sulawesi Utara.

Nah, karena itu, yuk kenali beberapa gejala yang harus diwaspadai. Ketika menemukan ciri berikut pada anak Anda, jangan segan untuk segera melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

1 Berat badan tidak kunjung naik
Anak harus mengalami tumbuh dan kembang, itu berarti anak harus mengalami kenaikan berat badan. …