Langsung ke konten utama

7 Cara Paling Efektif agar Anak Tidak Tumbuh Jadi Egois

Pernah melihat balita Anda menolak berbagi mainan dengan temannya? Sebenarnya hal tersebut tidak dapat dikatakan sepenuhnya egois. Yang ia lakukan itu hal wajar untuk anak seusianya. Anak bisa dikatakan egois, jika hanya ingin menang sendiri, tidak mau mengalah, selalu mencari pembenaran, dan selalu ingin mendapatkan lebih daripada teman sebayanya. Agar balita Anda tidak tumbuh besar menjadi orang yang egois, coba lakukan 7 hal berikut ini:
 
1. Biasakan berbagi


Untuk beberapa anak, berbagi mudah saja dilakukan. Tetapi untuk balita, umumnya berbagi itu sangat sulit. Dalam buku What To Expect The Toddler Years dari Arlene Eisenberg, disebutkan bahwa anak balita tidak mengerti perbedaan antara berbagi suatu benda dengan menyerahkan kepemilikan atas benda tersebut. Untuk itu, Anda perlu mengajarkan dan membiasakan konsep berbagi. Ajarkan anak berbagi mainan miliknya dengan temannya. Lalu, jelaskan bahwa ia sedang berbagi, dan itu adalah salah satu hal baik yang dilakukan. Katakan kepadanya, sewaktu dipinjam, mainan itu tetap miliknya. Namun, tekankan juga bahwa jangan sampai ia terlalu berbagi sehingga merugikan dirinya sendiri. Beri tahu si kecil bahwa ada beberapa barang yang boleh dibagi dengan orang lain, seperti mainan, makanan kecil, perlengkapan mandi, perlengkapan belajar, dan sebagainya, tetapi sda juga beberapa barang yang tidak bisa dibagi, seperti makanan utama, alat makan, pakaian (kecuali jika sudah tidak dipakai dan masih layak pakai sehingga ingin diberikan ke orang lain) dan sebagainya.

2. Kenalkan rasa peduli

Mengenalkan dan meningkatkan rasa peduli pada anak adalah hal yang sangat penting, agar ia kelak dapat tumbuh menjadi pribadi yang baik dan hebat. Ajarkan ia memahami situasi, perasaan, dan motivasi orang lain. Rasa peduli pada anak bisa Anda kenalkan dengan cara membantu satu sama lain, menolong pekerjaan orang sekitar, berbagi makanan, belajar menyayangi atau melindungi benda sekitar, bahkan hewan.

3. Terapkan ketegas dan konsistensi

Tegurlah dengan baik, jika anak Anda bersikap seenaknya sendiri dan tidak mau mengalah. Ketegasan dan konsistensi yang Anda lakukan bisa mendidik dan menentukan anak agar bisa tumbuh menjadi pribadi yang tidak egois. Lakukan dengan lembut, dan jelaskan bahwa yang ia lakukan salah dan bisa menyakiti perasaan orang lain. Lakukan secara berkala, pasti ia akan mengerti.

4. Bermain peran
 
Tunjukkan kepada anak, jika ia mau berbagi, maka akan mendapatkan jalinan pertemanan yang erat dan menyenangkan. Misalnya, dengan bermain dokter-dokteran. Ajak salah satu teman untuk bermain, jadikan boneka sebagai pasien. Minta anak Anda berperan sebagai ibu si pasien, sementara temannya berperan sebagai dokter. Ajak si kecil memberikan bonekanya kepada temannya untuk diperiksa. Setelah selesai, minta temannya memberikan kembali boneka kepada anak Anda.

5. Rencanakan playdate 

Rancanglah jadwal bermain bersama teman-teman anak ke taman atau di rumah. Hal ini baik dilakukan karena menumbuhkan kemauan anak untuk berbagi. Jika bermain di taman, ia akan belajar bahwa mainan seperti perosotan, ayunan, dan jungkat-jungkit adalah milik umum, yang berarti semua anak boleh bermain bersama di situ, dijaga, dan dirawat bersama.

6. Menjadi role model

Salah satu cara agar anak dapat cepat mengerti dan paham adalah Anda sebagai orang tua harus memberikan contoh yang baik. Karena anak-anak senang meniru perlakuan orang lain. Anda bisa menunjukkan dengan cara memperlihatkan kepada anak saat Anda meminjamkan suatu barang kepada orang lain, atau saat Anda memberikan pinjaman ke orang lain.

7. Berikan pujian

Di saat Anda melihat anak mau berbagi dengan orang lain, katakan, “Wah, Mama sangat bangga melihat kamu meminjami Rio mainan favoritmu.” Percayalah bahwa suatu pujian dapat membuat anak semakin yakin dan percaya bahwa berbagi adalah perbuatan yang baik. Lakukan hal ini setiap anak Anda berbagi dengan orang lain. 
Sumber: parenting.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bayi Sembelit, Coba Tips Ini Bunda

Kemungkinan Penyebab Bayi Sembelit. BAB pada anak memang bergantung pada asupan makanan yang diberikan. Jika memang asupannya sedikit maka BAB-nya juga menjadi jarang dan jika telah mengkonsumsi susu formula maka akan mempengaruhi frekuensi BAB anak. Bayi yang disusui ASI memiliki tinja yang lebih lunak, sehingga gerakan usus menjadi lebih mudah, dan memiliki kadar hormon tertentu lebih tinggi sehingga ada peningkatan gerakan usus. Sedangkan susu formula lebih sulit untuk dicerna, umumnya gerakan usus pada bayi-bayi ini lebih lambat sehingga mengakibatkan BAB lebih jarang, tinjanya lebih tebal. Selain itu jika frekuensi masuknya susu juga kurang, bayi cenderung lebih sulit BAB.

Selain itu, memang wajar terjadi perubahan dalam frekuensi BAB bayi dengan semakin bertambahnya usia bayi, hal tersebut menunjukkan bahwa seluruh produk yang masuk ke dalam tubuh dapat terserap oleh sistem pencernaan bayi. Tidak ada batas waktu yang dapat dijadikan patokan waktu yang normal bagi bayi untuk BAB…

Ternyata Mudah Banget Setting Youtube agar Aman untuk Anak

Menurut studi dari Pew Research Center, saat ini ada lebih dari 60% pengguna YouTube yang mengaku masih menemukan video bermasalah berisikan perilaku kekerasan, video bohong, dan yang tidak layak konsumsi bagi anak-anak. Orangtua zaman now sebaiknya tak membiarkan anak-anak nonton YouTube tanpa pengawasan.

Begini caranya 'setting' Youtube biar aman tuk anak-anak:
Google memiliki serangkaian fitur content control baru pada update terbaru Youtube Kids. Orangtua kini bisa memilih secara manual video atau kanal mana saja yang bisa ditonton oleh anak. Google juga menyediakan koleksi video dan kanal-kanal dari sumber terpercaya. Adanya pilihan itu orangtua makin mudah menyisir tontonan pilihan tuk anaknya.

"Dari koleksi kanal milik partner terpercaya hingga memungkinkan orang tua memilih video dan kanal secara manual, kami memberikan kendali lebih kepada para orang tua," ujar Product Director YouTube Kids James Beser, dikutip Tribunstyle.com dari KompasTekno.

Orangtua jug…

Lima (5) Jurus Ampuh Mencegah Penculikan Anak

Kasus penculikan anak yang sering Anda lihat di televisi, koran atau media lainnya pasti akan membuat Anda para orangtua menjadi was-was. Pasalnya penculikan yang terjadi tidak hanya terjadi pada anak-anak usia sekolah tapi juga balita yang dijaga oleh pengasuh. Hal inipun kemudian membuat para orangtua membatasi dunia bermain anaknya. Anak-anak disuruh bermain di rumah untuk menghindari terjadinya penculikan. Selain itu, banyak orangtua yang terpaksa berhenti bekerja atau meminta tolong kepada keluarga terdekat untuk menjaga anaknya karena mereka tidak percaya lagi dengan pengasuh bayi. Selain kedua hal tersbut, berikut ini adalah beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk mencegah terjadinya penculikan anak, terutama anak usia sekolah:

1 Tanamkan Kewaspadaan

Katakan kepada anak kalau dia tidak boleh langsung percaya pada orang yang baru dikenalnya. Katakan kepada mereka untuk tidak goyah meskipun dibujuk dengan mainan atau permen. Anda juga harus mengatakan kalau mereka tidak boleh p…