Langsung ke konten utama

5 Cara Mengajarkan Anak Mengambil Keputusan, No 5 Perlu Nyali dari Orang Tua

Kemampuan mengambil keputusan penting dimiliki oleh si kecil karena sangat terkait dalam kemandirian cara berpikir maupun bersikap. Berikut ini yang dapat Anda ajarkan kepada anak:

1. Beri contoh

Suatu saat ketika Anda sedang dalam tahap membuat keputusan, entah memutuskan menu makan malam, atau sekadar pilihan warna cat dinding ruang tamu, tunjukkanlah proses pengambilan keputusan tersebut pada anak Anda. Demikian saran Peter L. Stavinoha, Ph.D, psikolog anak di Children's Medical Center Dallas. 

"Tunjukkan kelebihan dan kekurangan dari setiap pilihan, kemudian bandingkan kedua pilihan satu sama lain, dan tunjukkan faktor penting apa yang akhirnya membuat Anda menjatuhkan pada salah satu pilihan," katanya. Misalnya, ketika Anda ingin mencari kado yang paling cocok untuk ulang tahun kakek, Anda bisa mengajak si kecil berdiskusi mengenai kisaran harga kado yang akan dibeli, hobi atau kegiatan favorit kakek, serta kemungkinan benda tersebut akan sering dipakai oleh kakek. 

Biarkan si kecil melihat bagaimana proses yang Anda lalui hingga sampai pada keputusan akhir mengenai kado untuk kakek. Hal ini akan membantu ia memahami upaya yang diperlukan dan memberinya semacam ‘peta jalan’ atau tuntunan yang bisa diikuti ketika ia akan membuat keputusan sendiri.

2. Batasi pilihan

Ketika Anda menyodorkan sebuah brosur berisi berbagai gambar kue ulang tahun dengan beragam jenis dan bentuk kepada si kecil, dan memintanya memilih satu yang ia inginkan untuk ulang tahunnya, jangan heran jika ia akan menghabiskan waktu sangat lama untuk berpikir. "Penelitian menunjukkan bahwa jika anak memiliki terlalu banyak pilihan, ia akan lebih kerepotan memilih karena sesungguhnya ia tidak ingin menolak terlalu banyak pilihan," kata Dr Chansky. 

Lebih baik, batasi pilihan yang Anda berikan kepada anak, baru kemudian minta ia untuk memilih. Anak-anak perlu pengalaman untuk menjadi pengambil keputusan yang baik, sehingga berikan ia kemudahan para praktiknya.

3. Beri ‘ukuran’ untuk setiap keputusan

Seringkali anak-anak takut membuat keputusan karena mereka berpikir setiap keputusan adalah suatu kesepakatan besar yang tidak boleh salah. Nah, cobalah Anda bantu si kecil untuk bisa memahami berbagai tingkat keputusan yang dibuatnya. Dengan begitu, ia tak akan terlalu khawatir salah dalam mengambil keputusan, dan ini akan menghemat banyak waktunya (dan waktu Anda!) dalam memutuskan. 

Contohnya begini: keputusan kecil itu mencakup hal-hal seperti memutuskan bekal apa yang akan dibawanya ke sekolah (pilihannya dibatasi: roti atau risoles!), dan itu dapat dilakukan dengan cepat; kemudian keputusan menengah misalnya memilih judul buku yang akan dipinjam dari perpustakaan (pilihannya biasanya lebih banyak!), dan ini memerlukan waktu lebih lama untuk berpikir; terakhir adalah keputusan  besar yang skalanya lebih penting, seperti memilih jenis ekskul di tahun ajaran baru, yang tentunya memerlukan pertimbangan yang lebih lama dan matang. 

Di waktu berikutnya ketika Anda mendapatinya bingung memilih mengenai jenis jus yang ingin ia pesan di restoran, Anda dapat mengingatkannya bahwa itu adalah keputusan kecil yang harusnya bisa ia putuskan dengan cepat.

4. Ajak berandai-andai

Jangan marah ketika Anda mendapati anak ‘berbicara’ pada dirinya sendiri saat ia sedang dalam proses memutuskan sesuatu, Ma. Ini artinya, ia sedang dalam tahap membuat evaluasi, membandingkan keuntungan dan kerugian dari setiap pilihan yang ada. Wajar jika proses ini sedikit memperlambat proses pemikiran mereka. 

Meski begitu, ini jadi semacam latihan bagi mereka sehingga ke depannya mereka lebih mampu untuk memikirkan segalanya dengan cepat, demikian disampaikan Michelle P. Maidenberg, Ph.D., direktur klinis dari Westchester Group Works di Harrison, New York. Nah, Anda dapat membantu anak Anda agar terbiasa dengan cara berpikir sistematis, yaitu dengan memberinya semacam ‘skenario’ yang memerlukan pilihan dan pemecahan masalah. 

Misalnya, Anda bisa menanyakan kepada anak, “Bagaimana kalau di waktu yang bersamaan kamu mendapat undangan ulang tahun dari dua temanmu? Kamu akan memilih undangan ulang tahun yang mana?” Permainan berandai-andai ini bisa jadi latihan untuk keterampilan berpikir kritis dan mempertajam kemampuannya dalam mengambilan keputusan.

5. Membiarkan anak membuat keputusan ‘salah’

Anda pasti tahu apa risikonya jika seorang anak TK dibiarkan membawa uang saku terlalu banyak ke sekolah. Kemungkinan yang bisa terjadi adalah uang tersebut bisa hilang karena si kecil belum mengerti bahwa uang adalah benda berharga yang harus dijaga. Nah, bagaimana jika suatu hari si kecil Anda yang masih duduk di TK bersikeras membawa seluruh uang sakunya ke sekolah? 

Jika Anda sudah berusaha menasihatinya dan ia tetap pada pendiriannya, maka yang bisa Anda lakukan adalah membiarkannya. “Selama itu bukan soal kesehatan atau keselamatan, penting bagi anak-anak untuk membuat beberapa keputusan yang buruk, karena hal ini membantu mereka belajar untuk mempertimbangkan konsekuensi," kata Dr. Stavinoha. 

Lalu, ketika si kecil Anda pulang sambil menangis karena telah menjatuhkan seluruh uang sakunya di taman bermain saat istirahat, Anda bisa yakin bahwa di kesempatan berikutnya ia tidak akan lagi berdebat tentang membawa seluruh uang sakunya ke sekolah.

Sumber: parenting.co.id

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bayi Sembelit, Coba Tips Ini Bunda

Kemungkinan Penyebab Bayi Sembelit. BAB pada anak memang bergantung pada asupan makanan yang diberikan. Jika memang asupannya sedikit maka BAB-nya juga menjadi jarang dan jika telah mengkonsumsi susu formula maka akan mempengaruhi frekuensi BAB anak. Bayi yang disusui ASI memiliki tinja yang lebih lunak, sehingga gerakan usus menjadi lebih mudah, dan memiliki kadar hormon tertentu lebih tinggi sehingga ada peningkatan gerakan usus. Sedangkan susu formula lebih sulit untuk dicerna, umumnya gerakan usus pada bayi-bayi ini lebih lambat sehingga mengakibatkan BAB lebih jarang, tinjanya lebih tebal. Selain itu jika frekuensi masuknya susu juga kurang, bayi cenderung lebih sulit BAB.

Selain itu, memang wajar terjadi perubahan dalam frekuensi BAB bayi dengan semakin bertambahnya usia bayi, hal tersebut menunjukkan bahwa seluruh produk yang masuk ke dalam tubuh dapat terserap oleh sistem pencernaan bayi. Tidak ada batas waktu yang dapat dijadikan patokan waktu yang normal bagi bayi untuk BAB…

Cegah Kasus Balita Stunting (Kerdil) dengan Konsumsi Ikan

Makan ikan belum menjadi sebuah kebiasaan bagi masyarakatnya. Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek mengatakan kenyataan tersebut dibarengi dengan data dari Kementerian Kesehatan yang menunjukkan masih tingginya angka balita yang mengalami stunting.
Stunting merupakan kondisi perkembangan tinggi badan yang tidak optimal, yang akhirnya berdampak kualitas kecerdasan menjadi tidak seperti yang diharapkan. Data pemantauan status gizi pada 2016 menunjukkan jumlah balita stunting mencapai 27,5 persen. Rinciannya, sangat pendek 8,5 persen dan pendek 19 persen. Sedangkan target Badan Kesehatan Dunia (WHO) adalah di bawah 20 persen. “Masalah stunting ini serius. Bayangkan, dari 10 anak, 4 di antaranya tidak cerdas. Ini bukan yang kita inginkan. Kita ingin anak-anak Indonesia menjadi sehat dan cerdas,” kata Menteri Kesehatan.

Data tersebut juga menyebutkan kasus balita stunting ditemukan di sebagian wilayah Indonesia, terutama di wilayah Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan, dan Papua. Padahal di sa…

Hati-hati 5 Hal Ini Bisa Jadi Tanda Kanker pada Anak

Sebanyak 16.291 anak umur 0-14 tahun di Indonesia mengidap kanker anak berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013. Upaya penyembuhan kanker bisa diupayakan asalkan bisa ditemukan dalam fase yang masih dini.

Memang sulit, karena anak sulit untuk mengungkapkan keluhan mereka. Tapi bukan berarti tidak bisa sembuh kok.

"Survivor adalah bukti bahwa mereka bisa sembuh, jadi stigma kanker tidak bisa disembuhkan itu mungkin dulu ya. Sekarang masyarakat sudah mulai melek, karena mungkin dibantu dari media masa yang memberikan informasi gejalanya," kata dr Endang Windiastuti, SpA(K) disela Roadshow Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI) di Manado, Sulawesi Utara.

Nah, karena itu, yuk kenali beberapa gejala yang harus diwaspadai. Ketika menemukan ciri berikut pada anak Anda, jangan segan untuk segera melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

1 Berat badan tidak kunjung naik
Anak harus mengalami tumbuh dan kembang, itu berarti anak harus mengalami kenaikan berat badan. …