Langsung ke konten utama

Cara Orangtua Ber-gadget di Rumah yang Harus Dipraktikkan, Simak Tips-nya Disini!

Dari orangtualah semua kebaikan dalam keluarga bermula. Jika orangtua disiplin dan tahu batasan dalam memakai gadget, anak akan meniru. Begitu pula jika orangtua dilihat anak tak pernah lepas dari gadget-nya, anak pun belajar tentang betapa pentingnya gadget sehingga tak boleh lepas dari genggaman—jangan lupa dengan dampak negatif yang mengintai. Nah, Anda ingin memberi contoh yang bagaimana?

Bijak Gunakan Gadget

Ketika berada di rumah setelah seharian bekerja di luar, saatnya anak dan pasangan yang mendapat perhatian, bukan gadget. Maka buatlah batasan ber-gadget untuk diri sendiri. Begitu pula untuk anak, amatlah wajar orangtua memastikan anak tidak terlalu lama menatap layar, baik itu televisi, ponsel, tablet, ataupun laptop.
 
Tinggalkan gadget saat bersama keluarga

Idealnya, orangtua tidak memegang gadget ketika bersama keluarga. Sebab, itu adalah saat bagi orangtua untuk menanamkan nilai-nilai pada anak, memberi mereka perhatian, sentuhan, bercengkerama, dan berdiskusi. “Jika memang tidak bisa dihindari dan ada hal yang sangat penting, orangtua bisa menggunakan gadget seperlunya, bukan untuk dimainkan,” tegas Marwati, Psi, psikolog di Yayasan Mitra Generasi, Bekasi.

Jika usia anak masih di bawah 5 tahun, orangtua diharapkan benar-benar fokus pada anak. Namun, bila anak sudah lebih besar, menurut Anna Surti Ariani, S.Psi, M.Si, Psi, boleh saja orangtua menggunakan gadget saat bersama anak, asal tidak berlebihan. “Pada dasarnya, anak yang usianya lebih besar akan cukup sibuk, sehingga orangtua tidak harus terus mencarikan aktivitas untuk anaknya. Kalau anaknya sedang tidak beraktivitas atau bingung mau melakukan apa, orangtua harus menghentikan dulu aktivitas dengan gadget-nya, lalu membantu anak menemukan kegiatan yang bisa dilakukan sehingga ia asyik dan aman dengan aktivitasnya itu, dengan begitu orangtua bisa melanjutkan aktivitas dengan gadget-nya,” urai psikolog lulusan Universitas Indonesia ini.

Lama menggunakan gadget

Apakah ada batasan waktu orangtua boleh menggunakan gadget saat bersama anak? Anna mengatakan, pertanyaan ini tidak bisa dijawab dengan angka, karena dalam psikologi tidak ada angka yang pasti. Maka kebijakan diri sendirilah yang perlu diterapkan, dengan selalu mengutamakan kebutuhan anak.

Namun, tambah Anna, ada ketentuan anak menggunakan gadget yang merupakan rekomendasi American Academy of Pediatrics dan berdasarkan penelitian. Yakni, anak di bawah 2 tahun sama sekali tidak menggunakan gadget; anak usia 2-5 tahun, maksimal 1 jam sehari; anak di atas 6 tahun, maksimal 2 jam sehari. Orangtuanya bagimana? “Selama orangtua bisa memberikan aktivitas-aktivitas bermanfaat buat anak, orangtua punya hak untuk menggunakan gadget. Selalu pastikan anak punya kegiatan bermanfaat dan aman, serta terpenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Jangan sampai karena orangtua menggunakan gadget, anak jadi tidak terurus,” tekan Anna.

Buat dan sepakati aturan

Aturan dalam ber-gadget, menurut Marwati, sangat diperlukan dalam keluarga. “Dengan aturan itu, keluarga jadi tidak sembarangan menggunakan gadget, dapat menghindari kecanduan gadget, memosisikan gadget sesuai fungsinya, belajar disiplin, dan lain sebagainya,” paparnya.

Untuk anak di bawah 5 tahun, orangtua yang membuat aturan dan menyampaikannya kepada anak dengan bahasa yang mudah ia pahami. Orangtua juga mengupayakan agar anak bisa mematuhi aturan tersebut. Lain halnya jika anak berusia di atas 5 tahun, imbuh Anna, aturan penggunaan gadget yang dibuat sebaiknya berdasarkan kesepakatan dengan anak. Misalnya, saat makan bersama keluarga, baik di rumah maupun di luar, gadget tidak boleh digunakan sama sekali agar keluarga dapat berinteraksi dengan hangat. Jika terjadi pelanggaran, terapkan konsekuensinya dengan konsisten, namun tetap memberi ruang apabila perubahan diperlukan.

Aturan Penggunaan Gadget dalam Keluarga

Tidak sulit menerapkan aturan penggunaan gadget dalam keluarga. Marwati memberi saran berikut agar keluarga sukses terhindar dari jeratan gadget.
  1. Berkomitmen pada aturan. Misalnya, mematikan gadget di jam kumpul keluarga, mulai jam 18 sampai 21 malam (metode 1821).
  2. Singkirkan kecemasan saat mematikan gadget. Jangan khawatir jika ada yang menghubungi  atau tertinggal informasi terkini.
  3. Raih lagi makna berinteraksi, karena banyak hal yang tidak tercakup dalam interaksi lewat media, antara lain bahasa tubuh yang sangat berperan dalam komunikasi.
  4. Terapkan komunikasi yang harmonis dalam keluarga. Biasakan untuk saling mendengar dan memperhatikan ketika sedang berbicara satu sama lain.
  5. Jangan menggunakan gadget ketika menghadapi orang.
  6. Lakukan beragam aktivitas keluarga yang membutuhkan gerak tubuh dan mengasah otak.
  7. Untuk anak, bermain gadget hanya di dekat ayah dan bunda.
  8. Jika melanggar, ada konsekuensi yang disepakati bersama.

Tips Makin Dekat dengan Anak Tanpa Gadget

Agar kedekatan hati tetap terjalin dan waktu luang jadi penuh kesan, tinggalkan gadget dan lakukan kegiatan berikut bersama keluarga
  1. Bermain atau berolahraga di taman. Menikmati segarnya udara pagi di taman dengan bermain atau berolahraga bersama keluarga tentu menjadi pilihan sehat dan mengasyikkan ketimbang berkutat dengan gadget.
  2. Jalan-jalan. Menghabiskan waktu luang dengan berjalan-jalan biasanya menjadi momen yang ditunggu-tunggu anak. Tambahkan pengalaman mereka dengan mengajaknya naik kendaraan umum, seperti kereta, bus tingkat/bus wisata, atau bahkan angkot, saat menuju ke tempat hiburan yang murah meriah.
  3. Ke perpustakaan atau toko buku. Untuk mengalihkan perhatian anak dari gadget, jadikanlah Al-Qur’an atau buku sebagai teman baiknya di setiap waktu. Fasilitasi anak dengan mengajaknya ke perpustakaan atau toko buku secara berkala.
  4. Membuat karya atau memasak bersama. Ini akan menjadi kegiatan mengasyikkan di rumah. Setelah seru membuat sebuah karya atau memasak, hasilnya pun bisa dinikmati bersama keluarga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bayi Sembelit, Coba Tips Ini Bunda

Kemungkinan Penyebab Bayi Sembelit. BAB pada anak memang bergantung pada asupan makanan yang diberikan. Jika memang asupannya sedikit maka BAB-nya juga menjadi jarang dan jika telah mengkonsumsi susu formula maka akan mempengaruhi frekuensi BAB anak. Bayi yang disusui ASI memiliki tinja yang lebih lunak, sehingga gerakan usus menjadi lebih mudah, dan memiliki kadar hormon tertentu lebih tinggi sehingga ada peningkatan gerakan usus. Sedangkan susu formula lebih sulit untuk dicerna, umumnya gerakan usus pada bayi-bayi ini lebih lambat sehingga mengakibatkan BAB lebih jarang, tinjanya lebih tebal. Selain itu jika frekuensi masuknya susu juga kurang, bayi cenderung lebih sulit BAB.

Selain itu, memang wajar terjadi perubahan dalam frekuensi BAB bayi dengan semakin bertambahnya usia bayi, hal tersebut menunjukkan bahwa seluruh produk yang masuk ke dalam tubuh dapat terserap oleh sistem pencernaan bayi. Tidak ada batas waktu yang dapat dijadikan patokan waktu yang normal bagi bayi untuk BAB…

Cegah Kasus Balita Stunting (Kerdil) dengan Konsumsi Ikan

Makan ikan belum menjadi sebuah kebiasaan bagi masyarakatnya. Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek mengatakan kenyataan tersebut dibarengi dengan data dari Kementerian Kesehatan yang menunjukkan masih tingginya angka balita yang mengalami stunting.
Stunting merupakan kondisi perkembangan tinggi badan yang tidak optimal, yang akhirnya berdampak kualitas kecerdasan menjadi tidak seperti yang diharapkan. Data pemantauan status gizi pada 2016 menunjukkan jumlah balita stunting mencapai 27,5 persen. Rinciannya, sangat pendek 8,5 persen dan pendek 19 persen. Sedangkan target Badan Kesehatan Dunia (WHO) adalah di bawah 20 persen. “Masalah stunting ini serius. Bayangkan, dari 10 anak, 4 di antaranya tidak cerdas. Ini bukan yang kita inginkan. Kita ingin anak-anak Indonesia menjadi sehat dan cerdas,” kata Menteri Kesehatan.

Data tersebut juga menyebutkan kasus balita stunting ditemukan di sebagian wilayah Indonesia, terutama di wilayah Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan, dan Papua. Padahal di sa…

Hati-hati 5 Hal Ini Bisa Jadi Tanda Kanker pada Anak

Sebanyak 16.291 anak umur 0-14 tahun di Indonesia mengidap kanker anak berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013. Upaya penyembuhan kanker bisa diupayakan asalkan bisa ditemukan dalam fase yang masih dini.

Memang sulit, karena anak sulit untuk mengungkapkan keluhan mereka. Tapi bukan berarti tidak bisa sembuh kok.

"Survivor adalah bukti bahwa mereka bisa sembuh, jadi stigma kanker tidak bisa disembuhkan itu mungkin dulu ya. Sekarang masyarakat sudah mulai melek, karena mungkin dibantu dari media masa yang memberikan informasi gejalanya," kata dr Endang Windiastuti, SpA(K) disela Roadshow Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI) di Manado, Sulawesi Utara.

Nah, karena itu, yuk kenali beberapa gejala yang harus diwaspadai. Ketika menemukan ciri berikut pada anak Anda, jangan segan untuk segera melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

1 Berat badan tidak kunjung naik
Anak harus mengalami tumbuh dan kembang, itu berarti anak harus mengalami kenaikan berat badan. …