Kecerdasan Intelektual atau Kecerdasan Emosional Anak, Mana Lebih Penting?

Kecerdasan Intelektual atau Kecerdasan Emosional Anak, Mana Lebih Penting?

Baca Juga


Saat yang paling menentukan ketika seseorang memutuskan tindakan apa yang akan diambil adalah ketika suara hati menyodorkan dua pilihan yang berbeda. Hal ini wajar karena memang setiap orang oleh Allah Tuhan Yang Maha Esa dikaruniai dua kecenderungan, yakni kecenderungan memilih yang baik atau kecenderungan memilih yang buruk. Dalam konteks dunia anak-anak, bilamanakah si anak akan memilih yang baik dan bilamanakah akan memilih yang buruk? Padahal anak-anak belum mampu membedakan baik dan buruk. 

Kemampuan membedakan baik dan buruk seseorang terletak pada kepekaan hati (kecerdasan emosional) dan kemampuan otak (kecerdasan intelektual). Pada rentang usia anak-anak sampai dengan remaja kedua hal itu dapat disebut sedang mengalami tahap pembentukan. Dalam tahap ini mereka labil. Oleh karenanya mereka perlu bimbingan dari orang dewasa untuk belajar mengambil sikap sekaligus melatih kepekaan perasaan dan kemampuan penalarannya.

Kecerdasan intelektual diperlukan untuk mengidentifikasi, merunut, menganalisa, memetakan juga menghubung-hubungkan satu peristiwa dengan peristiwa lain sehingga terwujud satu pemahaman logis yang diterima otak. Dari paparan ini cukup jelas bagaimana cara melatih dan meningkatkan kemampuan nalar (otak). Iya benar, cukup mengajari anak kemampuan bahasa (pola komunikasi) dan pola logika saja. Dua pola ini saat ini sudah cukup banyak diajarkan di pendidikan formal anak, dan memang fakta menunjukkan pendidikan formal di sekitar kita cukup berhasil membentuk daya nalar anak sehingga tumbuh menjadi manusia-manusia dewasa yang cerdas nalarnya.

Sementara kecerdasan emosional lebih ke arah apakah hal itu baik, pantas, etis, wajar, tidak melanggar norma bila dilakukan. Pada era seperti saat ini norma mulai dikesampingkan orang kebanyakan. Arus informasi yang bisa diakses dimanapun dan oleh siapapun membuat percampuran budaya tak terelakkan. Tidak hanya budaya, ternyata nilai dan norma pun juga bergeser sedemikian rupa. Ini terlihat dari perilaku generasi kita sekarang ini. Misalnya dulu adab, tata krama anak terhadap orang tua terlihat nyata warnanya. Penghormatan pada orang tua atau orang yang lebih tua juga sangat terasa kental di sekitar kita yang notabene memegang norma dan budaya luhur orang timur.

Pergeseran budaya dan norma membawa perubahan pada "standar baku" apa yang baik dan apa yang buruk. Misalnya, dahulu anak muda berjalan melewati orang tua dianggap sopan bila ada tegur sapanya. Sekarang ini anak muda jalan melewati orang tua atau melewati temannya nyaris tiada bedanya. Pergeseran nilai dan norma yang semisal inilah yang tidak terlalu kita pedulikan. Bagaimana perilaku anak, bagaimana sopan santun anak, bagaimana membentuk anak bertatakrama yang baik menjadi prioritas nomer sekian dibandingkan dengan pembentukan kecerdasan intelektual (otak).

Hal yang demikian tentu menjadi runtutan awal logika yang tidak janggal, ketika ternyata bangsa kita ini banyak memiliki orang pintar, ahli bidang teknologi, ahli ilmu pengetahuan tapi tidak ahli dalam ilmu perilaku (akhlak, moral). Mencuri misalnya, dahulu istilah ini akrab dan identik dengan maling di kampung. Dengan kecerdasan intelektual (otak) yang luar biasa ternyata mencuri sekarang terpraktekan di segala bidang dengan berbagai cara, contoh mencuri data negara, mencuri uang negara melalui proyek, pencucian uang hasil korupsi, membobol uang bank dengan teknologi canggih, dst.


Sebagian orang berfikir, solusi dari penyimpangan moral adalah adanya aturan yang jelas, penegakkan hukum tanpa mengenal bulu, penyesuaian gaji pejabat, dst. Menurut hemat penulis, peristiwa seperti contoh di atas lebih disebabkan kelemahan kekuatan internal manusianya dalam mengendalikan diri. Bang Napi bilang kejahatan hanya akan ada ketika ada NIAT dan KESEMPATAN. Jadi, pengendalian niat itulah yang lebih penting karena kesempatan bisa diciptakan, bisa dikondisikan oleh pemilik niat. Lantas bagaimana menata, mengendalikan niat dari semenjak usia dini (anak-anak hingga remaja)? Niat lahir dari hati (kecerdasan emosional). Simak tips membentuk kecerdasan emosional diartikel berikutnya ya.
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Related Posts

Kecerdasan Intelektual atau Kecerdasan Emosional Anak, Mana Lebih Penting?
4/ 5
Oleh

1 komentar:

16 Januari 2017 19.25 delete

[…] suku dan antar agama yang sering terjadi di negeri ini menunjukkan kurang adanya perhatian terhadap kecerdasan emosional selama ini. Konflik yang terjadi menggambarkan bahwa masing-masing kelompok sama-sama kurang cerdas […]

Reply
avatar