Cara Jitu Menghadapi Anak yang Pemarah

Cara Jitu Menghadapi Anak yang Pemarah

Baca Juga

Dalam kehidpuan sehari-hari, mungkin kita menjumpai salah satu atau beberapa anak kita memiliki karakter yang berbeda dibanding karakter saudara-saudaranya. Bisa jadi karakter unik itu berupa sifat anak kita yang sangat mudah marah. Kadangkala orang tua sampai kehabisan akal dan kehabisan kesabaran untuk menemukan cara menghadapi anak yang pemarah itu. Sikap pemarah anak biasanya juga dibarengi dengan sikap lancang, berani melawan pada orang tua dan sikap negatif lainnya.

Perilaku anak tersebut bisa terjadi karena memang si anak memiliki pembawaan suka marah (tempramental) atau bisa juga karena si anak meniru apa yang dilihat dari lingkungan sekitarnya. Sebagai orang tua kita tidak bisa serta merta menyalahkan anak, karena bila ditilik lebih jauh sebenarnya apa yang diekspresikan oleh anak hari ini adalah buah dari kepedulian orang tua dalam mewarnai pembentukan karakter anak. Lantas bagaimana cara yang sebaiknya dilakukan orang tua untuk menghadapi anak yang pemarah? Untuk menyikapi kondisi ini memerlukan cara pendidikan yang tepat untuk anak, khususnya pendidikan yang terkait perkembangan emosi anak.
Dalam mendidik dan menghadapi anak yang pemarah, sikap dan contoh positif dari orang tua sangat diperlukan. Berikut ini ulasan yang diambil dari penjelasan Dr. Jasem Al-Matuu tentang tujuh cara yang dapat dilakukan para orang tua.

1. Menggugah anak untuk berani mengungkapkan isi hatinya

Perilaku anak yang terlihat ekspresif sesungguhnya adalah cerminan spontan isi hatinya. Sebagian besar anak belum memiliki kemampuan yang baik dalam menyampaikan apa yang dirasakan hatinya dengan kata-kata. Menangis, tertawa, berteriak, melempar mainan bahkan memukul adalah ungkapan alami dari emosi anak. Itu adalah bentuk ekspresi spontan karena memang pada usia itu, anak-anak belum dapat mengoptimalkan peran akalnya. Oleh karena itu orang tuanya dapat melatih anak perlahan-lahan, setahap demi setahap agar anak mampu menyampaikan keinginan yang terpendam dalam hatinya dengan kata-kata yang baik. Melatih anak yang pemarah untuk mengungkap isi hatinya dapat dilakukan pada saat anak dalam kondisi rileks. Orang tua dapat menanamkan anak berani mengungkapkan isi hantinya menggunakan media dongeng/cerita.

2. Memberi sanjungan

Setelah anak mulai mampu mengungkapkan perasaanya dengan baik, dianjurkan orang tua memberikan sanjungan sebagai bentuk penghargaan. Agar anak lebih termotivasi dan semakin berani orang tua harus menyiapkan mental untuk mendengar apa pun yang disampaikan si anak, jangan buru-buru menghardik atau membantah penyampaian si anak karena ini bisa membuat anak trauma dan tidak mau lagi mengungkapkan secara verbal apa yang adal dalam hatinya. Lebih berbahaya lagi bila anak justru mencari atau mendapatkan “telinga” lain untuk mendengar curahan isi hatinya. Pemberian sanjungan juga dapat memberi arti motivasi, bahwa suara hati si anak bisa diterima baik oleh orang tuanya.

3. jangan buru-buru merespon kemarahan anak

Tidak segera merespon kemarahan anak bukan berarti tida peduli dengan perilaku anak saat itu. Tindakan ini perlu dilakukan untuk menghadapi anak yang pemarah, tetapi tidak harus selalu direspon demikian. Hal ini untuk membuat anak tidak ke-PD-an bahwa kemarahannya dapat dengan mudah manarik perhatian orang tuanya. Dengan demikian tidak tertanam dalam diri si anak untuk meluapkan emosi sesuka yang ia inginkan. Pada tahap ini orang tua harus bersikap bijak yaitu dengan mengajak anak bicara dan memberi pengertian dengan cara yang bisa dimengerti anak, bahwa peyelesaian segala sesuatu tidak harus dengan cara marah, bahwa menyampaikan pesan orang lain dapat dilakukan dengan cara lain yang lebih baik.

4. Tidak ragu bersikap tegas

Mungkin kadangkala arahan orang tua pada anaknya hanya dianggap angin yang berlalu, dan anak tetap melakukan aksi marah atau sikap lancangnya pada orang tuanya. Pada kondisi ini orang tua harus mampu mengambil sikap tegas pada anak. Ketegasan pada anak harus dilakukan dengan sikap yang tenang dan tidak membabi buta. Menunjukkan ketegasan juga bukan berarti orang tua dapat seenaknya meluapkan kemarahannya pada si anak. Agar kesan yang tertanam dalam benak anak ketegasan itu bersikap positif maka sangat dianjurkan orang tua dapat memberikan penjelasan mengapa orang tua memperlakukan anak demikian. Anak juga berhak paham nilai kebaikan dari orang tua yang hendak disampaikan dari sikap tegas itu.

5. Hindari menghukum anak

Seringkali kesabaran orang tua seolah mencapai batasnya ketika mendapati anaknya saat menghadapi anak yang pemarah. Respon spontan dari kebanyakan orang tua adalah ingin segera hukuman pada si anak, baik dengan cara mencubit, memukul atau dengan cara kekerasan lainnya. Sangat dianjurkan bagi orang tua tidak memberikan contoh yang baik pada si anak. Hindarkan dari menciderai anak sendiri apalagi dalam kondisi emosi. Bantulah anak untuk menyampaikan masalah apa yang dirasakannya dan ajarkan anak untuk mendapatkan jalan keluar yang baik.

6. Melatih anak menahan emosi dengan media permaianan

Sejalan dengan kecenderungan pada usia anak, dimana bermain dan permainan adalah dunia mereka, maka orang tua dapat memanfaatkan media ini untuk memunculkan kontrol internal anak saat emosi. Contohnya adalah orang tua dapat memberikan satu bintang (apresiasi) pada anak yang bisa mengendalikan emosi dalam permainan, memberikan dua bintang pada anak yang mampu menahan emosi dan mengungkapkan penyebab emosinya pada orang tuanya dengan cara yang baik, dan seterusnya.

7. Memahamkan anak dampak buruk dari marah

Setelah member arahan dan anak mulai terlatih untuk bicara, secara paralel (bersamaan) orang tua dapat memberikan pengertian dampak buruk dari kemarahan. Orang tua dapat memberi contoh efek buruk pelampiasan kemarahan lewat cerita, sejarah atau pengalaman-pengalamannya. Kita dapat juga menggambarkan pada anak bahwa orang yang terkuat adalah bukan orang yang mampu mengangkat beban yang berat, orang paling kuat adalah orang mampu menahan luapan rasa marahnya. Inti dari poin ke tujuh ini adalah anak dapat memahmi dan menangkap maksud bahwa marah adalah bukan solusi yang baik.

Demikian sharing tips seputar cara menghadapi anak yang pemarah, semoga sebagai orang tua kita dapat lebih bersabar demi terbentuknya generasi penerus yang lebih baik.
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Related Posts

Cara Jitu Menghadapi Anak yang Pemarah
4/ 5
Oleh

3 komentar

29 Mei 2016 03.44 delete

Pada dasarnya. hak anak adalah bermain. Kita sebagai orang tua, tidak perlu terlalu kaku dalam mendidiknya. Kita bisa mendidik mereka melalui permainan2 ataupun cara mereka bermain bersama temannya. Kita bisa memilihkan mainan yang mengandung unsur pendidikan. Sehingga mereka bisa mendapatkan kebahagiaan (hiburan) dan ada pelajaran yang mereka dapatkan dibalik mainan atau permainan itu.. :)

Reply
avatar
14 Januari 2017 14.43 delete

[…] yang baik dan kurang baik untuk sang anak. “Saat orang tua sudah menyadari, kita bisa ajari teknik parenting yang lebih sesuai. Tapi kalau kesadaran itu belum ada, agak sulit. Dan kesadarannya itu kesadaran […]

Reply
avatar
16 Januari 2017 18.24 delete

[…] aktivitas anak dilakukan orang tua untuk mencegah anak kecewa, namun malah membuat anak memiliki citra diri negatif. Misalnya dengan melarang anak ikut klub […]

Reply
avatar