Langsung ke konten utama

Tips Merawat Bayi Sepulang dari Rumah Sakit

Pada era modern ini kelahiran bayi rata-rata dibantu oleh tenaga medis (bidan, dokter), sudah jarang sekali proses kelahiran yang masih menggunakan jasa dukun bayi, kecuali di daerah pelosok. Seiring dengan kesibukan para calon ibu di zaman serba canggih ini bekal pengalaman mempersiapkan bayi pertama kali terkadang sangat terbatas. Untuk membantu para calon ibu muda yang kurang referensi dalam merawat bayi sepulang dari rumah sakit, berikut ini beberapa tips penting yang perlu diperhatikan. Untuk merawat kesehatan bayi setelah pulang dari rumah sakit ada baiknya Bunda memperhatikan hal berikut ini:

- Memandikan bayi dengan air hangat setiap hari

- Memberikan minuman ASI secara teratur setiap 3 jam. Setelah pemberian ASI letakkan bayi di pundak dan tepuk-tepuk perlahan di punggung bayi sampai anginnya keluar/sendawa (baby burping). Selesai minum ASI berikan sedikit air putih masak dengan sendok teh sekitar 10 cc, supaya mulut bayi tetap dalam kondisi bersih.

- Bawalah bayi Bunda untuk periksa secara teratur ke bidan/dokter. Berikut adalah jadwal pemeriksaan anak bayi berkala yang disarankan oleh dokter.

 UmurSatuan WaktuIntensitas
 0 - 6Bulan minimum setiap bulan
7 - 12Bulan setiap 2 - 3 bulan
1 - 2Tahun setiap 3 - 6 bulan
> 2Tahun setiap 6 -12 bulan

- Hal-hal yang perlu diperhatikan pada kunjungan berkala:
a. Penilaian pertumbuhan & perkembangan anak bayi
b. Pemberian imunisasi sesuai jadwal
c. Konsultasikan seputar kesehatan anak, minta saran atau tips dari bidan/dokter

- Indikasi yang mengharuskan Bunda membawa bayi yang baru saja di bawa pulang dari rumah sakit untuk segera periksa ke bidan/dokter, yaitu:
a. Bayi dengan cepat kulit berwarna sangat kuning
b. Tinja berwarna pucat/dempul
c. Muntah hebat, perut kembung, buang-buang air
d. Panas tinggi, kejang,, malas menetiks
e. Sesak nafas

Itulah beberapa tips merawat bayi sepulang dari rumah sakit.Semoga bermanfaat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bayi Sembelit, Coba Tips Ini Bunda

Kemungkinan Penyebab Bayi Sembelit. BAB pada anak memang bergantung pada asupan makanan yang diberikan. Jika memang asupannya sedikit maka BAB-nya juga menjadi jarang dan jika telah mengkonsumsi susu formula maka akan mempengaruhi frekuensi BAB anak. Bayi yang disusui ASI memiliki tinja yang lebih lunak, sehingga gerakan usus menjadi lebih mudah, dan memiliki kadar hormon tertentu lebih tinggi sehingga ada peningkatan gerakan usus. Sedangkan susu formula lebih sulit untuk dicerna, umumnya gerakan usus pada bayi-bayi ini lebih lambat sehingga mengakibatkan BAB lebih jarang, tinjanya lebih tebal. Selain itu jika frekuensi masuknya susu juga kurang, bayi cenderung lebih sulit BAB.

Selain itu, memang wajar terjadi perubahan dalam frekuensi BAB bayi dengan semakin bertambahnya usia bayi, hal tersebut menunjukkan bahwa seluruh produk yang masuk ke dalam tubuh dapat terserap oleh sistem pencernaan bayi. Tidak ada batas waktu yang dapat dijadikan patokan waktu yang normal bagi bayi untuk BAB…

Cegah Kasus Balita Stunting (Kerdil) dengan Konsumsi Ikan

Makan ikan belum menjadi sebuah kebiasaan bagi masyarakatnya. Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek mengatakan kenyataan tersebut dibarengi dengan data dari Kementerian Kesehatan yang menunjukkan masih tingginya angka balita yang mengalami stunting.
Stunting merupakan kondisi perkembangan tinggi badan yang tidak optimal, yang akhirnya berdampak kualitas kecerdasan menjadi tidak seperti yang diharapkan. Data pemantauan status gizi pada 2016 menunjukkan jumlah balita stunting mencapai 27,5 persen. Rinciannya, sangat pendek 8,5 persen dan pendek 19 persen. Sedangkan target Badan Kesehatan Dunia (WHO) adalah di bawah 20 persen. “Masalah stunting ini serius. Bayangkan, dari 10 anak, 4 di antaranya tidak cerdas. Ini bukan yang kita inginkan. Kita ingin anak-anak Indonesia menjadi sehat dan cerdas,” kata Menteri Kesehatan.

Data tersebut juga menyebutkan kasus balita stunting ditemukan di sebagian wilayah Indonesia, terutama di wilayah Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan, dan Papua. Padahal di sa…

Hati-hati 5 Hal Ini Bisa Jadi Tanda Kanker pada Anak

Sebanyak 16.291 anak umur 0-14 tahun di Indonesia mengidap kanker anak berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013. Upaya penyembuhan kanker bisa diupayakan asalkan bisa ditemukan dalam fase yang masih dini.

Memang sulit, karena anak sulit untuk mengungkapkan keluhan mereka. Tapi bukan berarti tidak bisa sembuh kok.

"Survivor adalah bukti bahwa mereka bisa sembuh, jadi stigma kanker tidak bisa disembuhkan itu mungkin dulu ya. Sekarang masyarakat sudah mulai melek, karena mungkin dibantu dari media masa yang memberikan informasi gejalanya," kata dr Endang Windiastuti, SpA(K) disela Roadshow Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI) di Manado, Sulawesi Utara.

Nah, karena itu, yuk kenali beberapa gejala yang harus diwaspadai. Ketika menemukan ciri berikut pada anak Anda, jangan segan untuk segera melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

1 Berat badan tidak kunjung naik
Anak harus mengalami tumbuh dan kembang, itu berarti anak harus mengalami kenaikan berat badan. …