Langsung ke konten utama

Gadget dan Perilaku Anak

Gadget dan perilaku aneh anak di masa kecilnya

Bermain merupakan dunianya anak. Kebahagiaan dan kesenangan anak-anak yaitu menghabiskan sebagian besar waktunya bersama teman sepermainannya. Tetapi akhir-akhir ini rupanya aktifitas anak sudah mulai berkurang seiring dengan makin banyaknya anak yang diberi gadget oleh orang tuanya. Gadget adalah sebuah bentuk teknologi yang bersifat netral. Ia sebenarnya seperti halnya pisau dapur atau api, bila bisa memanfaatkan dengan baik maka ia akan membawa dampak kebaikan yang banyak pada anak, namun bila tidak mampu bijak dalam memanfaatkannya ia bisa membuat anak kehilangan segalanya di masa kecilnya.

Bukti ilmiah pengaruh gadget terhadap perilaku anak

Namun demikian, ironisnya tidak setiap saat orang tua bisa mengontrol apa yang dilakukan anaknya dengan mainan digitalnya itu. Banyak orang tua yang mengira anaknya “cerdas” karena pintar menggunakan gadget, bermain game online dengan beraneka ragam level kesulitannya. Pertanyaannya adalah apakah para orang tua menyadari bahwa jika anak-anak dengan gadgetnya itu bisa membahayakan perkembangan fisik dan perkembangan psikologi anaknya? Kiaser Family Foundation pernah melakukan sebuah penelitian terhadap 2.032 anak berusia 3-12 tahun mengenai frekuensi (tingkat keseringan) anak bermain video game atau game pada komputer. Didapatkan sebuah hasil bahwa 73% anak laki-laki usia 8-10 tahun ternyata menghabiskan waktu rata-rata 1 jam tiap hari, lalu sekitar 68% anak usia 12-14 tahun memainkan game untuk anak usia di atas 17 tahun.

Bahaya gadget pada perubahan dan perilaku anak.

Psychiatric Time menyebutkan bahwa alasan anak-anak bermain game adalah ingin mencoba hal baru dan ingin menghilangkan stres karena adanya suatu masalah, misalnya tugas sekolah.
Namun faktanya keseringan bermain game dapat mempengaruhi kepribadian anak. Ini karena anak di usia 4-7 tahun mereka cenderung meniru dan menyerap apa saja yang dilihatnya sehinggal hal inilah yang dapat mempengaruhi pada perkembangan anak itu sendiri. Terlebih lagi saat ini telah beredar banyak sekali game yang mengandung unsur kekerasan di dalamnya. Dampak negatifnya ialah game itu bisa mempengaruhi karakter anak menjadi seorang pemberontak dan memicu rasa ingin tahu yang kuat terhadap sesuatu yang terlarang, dan membuat si anak punya perlikau yang mungkin sulit diterima orang di sekitarnya. Tidak heran bila saat ini sering terdengar berita banyaknya kasus kekerasan yang melibatkan anak-anak usia sekolah dasar.
Unsur kekerasan yang ditampilkan pada game ternyata sangat berbahaya karena akan memberikan inspirasi-inspirasi anak dan anak akan mudah berfikir menyelesaikan segala sesuatu dengan cara-cara kekerasan. Keseringan anak melihat adegan kekerasan juga dapat membuat anak melakukan cara-cara kekerasan untuk mendapatkan segala sesuatu yang ia maui. Anak juga akan cenderung mudah mempraktekan bentuk kekerasan yang dilihatnya di video game karena kemampuan menimbang sebab-akibat yang mereka miliki masih rendah, sehingga tidak mengherankan bila anak-anak semacam itu akan akan cenderung berperilaku agresif.

Bahaya gadget pada pergaulan sosial anak

Interaksi sosial pada masa anak-anak sangatlah penting dalam menumbuhkembangkan jiwa sosial anak. Kepedulian mereka terhadap sesama akan mudah terasah dengan melakukan aktifitas sosial, misalnya bermain dengan sesama teman di sekitar rumahnya, mengunjungi teman bermain yang sedang sakit, ikut berpartisipasi dalam gotong royong lingkungan setempat. Pergaulan sosial yang demikian akan mendukung sikap positif pada anak misalnya: munculnya sifat empati terhadap sesama, mendukung bertumbuhnya sifat saling menghargai, suka menolong, memupuk sikap saling bertoleransi dan sifat bertanggung jawab.
Tidak hanya pada orang dewasa, ternyata gadget sangat efektif dalam membatasi pergaulan sosial anak terhadap lingkungan terdekatnya. Kesenangan anak menggunakan gadget terutama untuk game online membuat kepedulian terhadap sekitarnya menjadi rendah. Pembatasan interaksi sosial anak oleh gadget dapat dengan mudah menghilangkan kesempatan anak untuk belajar hal banyak di luar dirinya.

Bahaya gadget pada kesehatan fisik anak

Anak yang terlanjur kecanduan memegang gadget dan bermain game seringkali tidak mengenal tempat dan waktu. Bermain gadget bisa mereka lakukan saat berdiri, saat duduk-duduk, bahkan saat berbaring atau sambil tiduran. Kecenderungan anak ketika sudah asik bermain game membuat jarak antara mata dan layar monitor gadget atau layar perangkat elektronik lain yang sedang dipakai sangat dekat, dimana ini sangat memungkinkan seringnya melewati batas aman jarak pandang. Pengabaian jarak pandang ini membuat mata anak mudah lelah, dan kegemaran anak bermain gadget dengan game di dalamnya seringkali membuat anak memaksakan diri meskipun posisi tubuh dan kondisi mata sudah tidak mendukung, misalnya bermain gadget/game sambil tiduran, dengan tingkat pencahayaan yang kurang ditambah dengan jarak pandang yang terlalu dekat. Perilaku anak yang demikian tentu saja akan memudahkan rusaknya pengelihatan anak.
Ada sebuah penelitian di Amerika dan di Inggris yang membuktikan mudahnya muncul gejala sakit, nyeri pada anak karena bermain gadget atau aplikasi game selama berjam-jam. Penyebabnya adalah posisi tangan, jarak pandang mata yang tidak proporsional.

Jurus efektif penangkal bahaya gadget pada anak

Apa yang bisa dilakukan orang tua untuk memastikan anaknya tidak kehilangan kesempatan berinteraksi sosial lewat dunia nyata, bukan interaksi sosial lewat media sosial? Ada beberapa hal yang perlu dilakukan agar anak dapat terhindar dari dampak negatif gadget, antara lain:
  1. Memberikan contoh dan kesempatan anak berinteraksi sosial secara langsung di lingkungan terdekatnya, misalnya dengan mengajak dan mengajarkan anak untuk ikut bergotong royong, sholat berjamaah di masjid, mengikuti arisan, dst.
  2. Mengontrol dan memonitor aktifitas anak dengan gadget-nya. Orang tua dapat dengan bijak memberikan pengertian pada anak berapa lama waktu yang baik bermain gadget tanpa harus mengorbankan waktu belajar dan waktu bermain bersama teman-nya di luar rumah, misalnya hanya memberikan toleransi bermain gadget (game online) maksimal 2 jam sehari.
  3. Para orang tua jangan terlena untuk memantau perubahan perilaku anak agar anak tidak begitu saja mempraktekan hal-hal buruk yang mungkin berasal dari gadget (game online).
  4. Pandailah memilihkan atau memberikan permainan yang bersifat edukatif atau mendukung terhadap tumbuh kembang IQ atau EQ ataupun ESQ anak.
  5. Berikan pemahaman yang baik dan bisa diterima anak/sesuai daya tangkap (sesuai kadar akal anak) terhadap penggunaan gadget.
  6. Bersikap tegas manakala anak melewati batas toleransi yang telah disepakati antara orang tua dan anak. Sikap tegas orang tua ini bukan sebagai pelampiasan emosi orang tua, namun bertujuan mengajarkan sikap bertanggung jawab dan konsekuen.
Itulah sebagian tips untuk menangkal pengaruh gadget terhadap perubahan perilaku anak. Semoga bermanfaat untuk semua.

Komentar

  1. […] Beberapa perilaku anak yang dimunculkan oleh gadget dapat dilihat pada website berikut http://seputaranak.com/gadget-dan-perilaku-anak/  karena saya akan mengulas hal […]

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bayi Sembelit, Coba Tips Ini Bunda

Kemungkinan Penyebab Bayi Sembelit. BAB pada anak memang bergantung pada asupan makanan yang diberikan. Jika memang asupannya sedikit maka BAB-nya juga menjadi jarang dan jika telah mengkonsumsi susu formula maka akan mempengaruhi frekuensi BAB anak. Bayi yang disusui ASI memiliki tinja yang lebih lunak, sehingga gerakan usus menjadi lebih mudah, dan memiliki kadar hormon tertentu lebih tinggi sehingga ada peningkatan gerakan usus. Sedangkan susu formula lebih sulit untuk dicerna, umumnya gerakan usus pada bayi-bayi ini lebih lambat sehingga mengakibatkan BAB lebih jarang, tinjanya lebih tebal. Selain itu jika frekuensi masuknya susu juga kurang, bayi cenderung lebih sulit BAB.

Selain itu, memang wajar terjadi perubahan dalam frekuensi BAB bayi dengan semakin bertambahnya usia bayi, hal tersebut menunjukkan bahwa seluruh produk yang masuk ke dalam tubuh dapat terserap oleh sistem pencernaan bayi. Tidak ada batas waktu yang dapat dijadikan patokan waktu yang normal bagi bayi untuk BAB…

Cegah Kasus Balita Stunting (Kerdil) dengan Konsumsi Ikan

Makan ikan belum menjadi sebuah kebiasaan bagi masyarakatnya. Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek mengatakan kenyataan tersebut dibarengi dengan data dari Kementerian Kesehatan yang menunjukkan masih tingginya angka balita yang mengalami stunting.
Stunting merupakan kondisi perkembangan tinggi badan yang tidak optimal, yang akhirnya berdampak kualitas kecerdasan menjadi tidak seperti yang diharapkan. Data pemantauan status gizi pada 2016 menunjukkan jumlah balita stunting mencapai 27,5 persen. Rinciannya, sangat pendek 8,5 persen dan pendek 19 persen. Sedangkan target Badan Kesehatan Dunia (WHO) adalah di bawah 20 persen. “Masalah stunting ini serius. Bayangkan, dari 10 anak, 4 di antaranya tidak cerdas. Ini bukan yang kita inginkan. Kita ingin anak-anak Indonesia menjadi sehat dan cerdas,” kata Menteri Kesehatan.

Data tersebut juga menyebutkan kasus balita stunting ditemukan di sebagian wilayah Indonesia, terutama di wilayah Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan, dan Papua. Padahal di sa…

Hati-hati 5 Hal Ini Bisa Jadi Tanda Kanker pada Anak

Sebanyak 16.291 anak umur 0-14 tahun di Indonesia mengidap kanker anak berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013. Upaya penyembuhan kanker bisa diupayakan asalkan bisa ditemukan dalam fase yang masih dini.

Memang sulit, karena anak sulit untuk mengungkapkan keluhan mereka. Tapi bukan berarti tidak bisa sembuh kok.

"Survivor adalah bukti bahwa mereka bisa sembuh, jadi stigma kanker tidak bisa disembuhkan itu mungkin dulu ya. Sekarang masyarakat sudah mulai melek, karena mungkin dibantu dari media masa yang memberikan informasi gejalanya," kata dr Endang Windiastuti, SpA(K) disela Roadshow Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI) di Manado, Sulawesi Utara.

Nah, karena itu, yuk kenali beberapa gejala yang harus diwaspadai. Ketika menemukan ciri berikut pada anak Anda, jangan segan untuk segera melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

1 Berat badan tidak kunjung naik
Anak harus mengalami tumbuh dan kembang, itu berarti anak harus mengalami kenaikan berat badan. …