Cara Mendidik Anak Nakal: Dimana Peran Penting Orang Tua?

Cara Mendidik Anak Nakal: Dimana Peran Penting Orang Tua?

Baca Juga

Orang sering menyebut anak yang nakal, anak yang super aktif (hiperaktif) dengan sebutan yang lebih positif yaitu anak agresif atau anak yang kreatif. Beberapa orang menyebutnya sebagai anak-anak yang memiliki bakat/kecerdasan lebih dibanding anak-anak pada umumnya. Istilah yang “paradoks” ini sering membuat orang tua menjadi tertawan pada harapan dan ketakutan, sehingga membuat para orang tua cenderung tidak melakukan apa-apa saat anak berperilaku kurang baik dari sisi etika. Harapan seperti apa? Yaitu harapan besar dimana di masa depan anak-anak tersebut betul-betul menjadi orang yang cerdas, anak yang kreatif, anak yang pandai dalam bidangnya, melebihi rata-rata orang yang ada seperti kondisinya saat ini. Harapan ini satu sisi menimbulkan ketakutan atau kekhawatiran atau lebih tepatnya ketidakberanian orang tua untuk mengarahkan bahkan menindaktegas anak ketika dirasa melakukan satu bentuk kesalahan perilaku. Misalnya:
  • ketika seorang anak yang seperti ringan saja meninggalkan kewajibannya (contoh sholat lima waktu atau belajar ngaji pada waktunya) meskipun sudah berulang kali diberitahu oleh orang tuanya.

  • anak yang sering melakukan aktifitas yang riskan menimbulkan kerusakan/bahaya (main bola di ruang tamu, naik dan melompat-lompat di meja/kursi ruang tamu, ngebut naik sepeda di komplek perumahan)

  • suka gaduh sendiri, berteriak atau menyela pembicaraan ketika orang tuanya berbicara dengan orang lain (tamu)

  • manja yang berlebihan di hadapan orang lain, sehingga membuat anda salah tingkah atau merasa malu, dst.
Lalu bagaimana cara mendidik anak nakal ini?

Banyak artikel bahkan para ahli pendidikan anak yang menjelaskan panjang lebar seputar kiat khusus mendidik anak nakal, tetapi pada pelaksanaannya kiat-kiat yang ada tersebut tidak mudah dilakukan, tidak semudah membalik telapak tangan. Menerapkan cara mendidik anak nakal juga tidak semudah para psikolog membicarakannya, tidak pula semudah para ahli pendidikan anak menuangkan dalam tulisannya. Apa yang sebenarnya membuat kiat maupun tips mendidik anak nakal mejadi sangat susah dilakukan?
  1. Mindset (pola pikir orang tua)
Ada sebuah ilustrasi yang sebaiknya dipahami dahulu, yaitu selembar daun yang kecil tidak akan mungkin menutupi seluruh dunia, tapi bila selembar daun kecil bila ditempelkan dikelopak mata maka seluruh dunia pasti tidak akan terlihat lagi. Sama seperti ilustrasi di tersebut, susah atau mudah membimbing anak nakal, mendidik anak “kreatif” tergantung bagaimana cara pandang orang tuanya. Apakah ia memandangnya dari sudut daun yang menutupi permukaan dunia atau daun yang menutupi permukaan kelopak matanya. Sebenarnya perasaan sulit itu lebih didominasi dari ketidakmampuan orang tua mengendalikan dirinya sendiri dan ketidakcukupan ilmu dalam menghadapi perilaku anak yang terlihat nyeleneh.

Kita sering berbicara dengan anak dengan bahasa orang dewasa seolah mereka mengerti layaknya orang yang sudah cukup sempurna akalnya. Dan lebih parahnya lagi kita sering teralu berlebihan (over ekspektasi) yakni dengan berharap mereka mau mengerti kita. Pandangan ini terbalik, kita lah yang harus memahami mereka (karena akal mereka belum sempurna). Jadi setting ulang-lah pola pikir kita dahulu sebelum membulatkan tekad untuk mengarahkan anak anak ke jalan yang baik.
  1. Membekali diri dengan kesabaran yang cukup
Dalam menghadapi anak orang tua harus berbekal kesabaran tinggi. Banyak sekali perilaku anak yang akan siap menjadi bahan ujian kesabaran para orang tuanya. Anak memang buah hati untuk orang tuanya tetapi anak juga bias menjadi fitnah.

Pada dasarnya kesabaran tidak ada batasnya untuk setiap orang, manusia sendirilah yang membatasi dirinya untuk bisa bersabar. Secara teori sabar adalah hal yang mudah tetapi pada prakteknya ini akan susah, karena sabar erat kaitannya dengan kemahiran orang tua dalam mengatur emosi agar tidak kehilangan kesadaran. Pengaturan emosi bisa dilatih dengan tidak membiasakan diri meluapkan emosi meskipun memiliki kesanggupan meluapkannya.
  1. Menambah ilmu seputar dunia anak
Menuntut anak memahami orang tua jelas hal yang lebih tidak mungkin dilakukan dibanding menuntut orang tua untuk memahami dunia seputar anak. Dari sisi kemampuan otak, kedewasaan berfikir dan bekal pengalaman hidup jelas orang tua lah yang seharusnya beradaptasi. Kesadaran ini hendaknya dibangun dan terus diingat dalam benak setiap orang tua yang memiliki anak dengan potensi bakat nakal yang tinggi atau anak yang sudah terlanjur “kreatif”. Ketidakmampuan orang tua sebenarnya karena orang tua yang tidak tahu caranya. Ketidaktahuan itu biasanya dipicu dari: Pertama, keengganan/ketidakpedulian menyiapkan bekal sebelum atau sesudah menjadi orang tua.Banyak calon orang tua yang berfikir bahwa ketika mereka mempunyai anak segalanya akan baik-baik saja dan tidak pernah berfikir akan “ada masalah” dengan perilaku anak. Kedua, tidak mau menambah bekal ilmu lewat membaca ataupun memanfaatkan informasi yang saat ini telah tersebar secara offline atau online. Ini bisa karena alasan sibuk pekerjaan, dsb.

Dari ulasan ini seyogyanya para orang tua yang memiliki anak yang dinilai nakal segera menyadari bahwa cara mendidik anak nakal bukan semata-mata faktor dari si anak, namun kenyataannya peran orang tua juga menjadi penting. Orang tua tidak menuntut hanya menuntut anaknya berubah tanpa di awali dari perubahan dirinya dahulu.
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Related Posts

Cara Mendidik Anak Nakal: Dimana Peran Penting Orang Tua?
4/ 5
Oleh

4 komentar

27 Februari 2016 13.39 delete

[…] termasuk “bengal”. Namun ibu saya bilang, saya kreatif. Kakak-kakak saya bilang saya anak bandel. Namun, otak saya bilang “selalu ada jalan keluar dari setiap […]

Reply
avatar
1 Maret 2016 05.20 delete

[…] memperhatikan usia anak yang kita ajak bicara. Kenapa? Sebab usia anak memengaruhi perkembangan cara berpikir anak terhadap konsep yang kita ajarkan dan cara anak memahami lingkungan […]

Reply
avatar
3 Maret 2016 04.46 delete

[…] haruslah di ajarkan. Empati tidak tumbuh dengan sendirinya. Langkah pertama adalah pengenalan emosi terhadap si kecil. Saat membayangkan diri kita berada dalam kondisi orang lain, kita mencari tahu […]

Reply
avatar
15 Januari 2017 05.30 delete

[…] seperti itu nantinya dibutuhkan anak untuk mengakomodir perkembangan kognitif dan emosional anak. Sehingga, jika tadinya anak belum boleh mendapat hukuman, saat usianya di atas 4 tahun dia sudah […]

Reply
avatar