Anak Sulung, Tengah, dan Bungsu: Ini Karakter Uniknya

Apakah urutan lahir berpengaruh pada kehidupan harianmu? Menurut psikolog Linda Blair, ketimbang urutan lahir, pengalaman masa kecil menjadi fondasi bagaimana seseorang. "Termasuk dalam kehidupan percintaan,” kata dia seperti dilansir Huffington Post.
 
Blair mencatat cara mendidik dan apakah orangtua Anda tetap harmonis atau berpisah punya pengaruh besar dalam kehidupan percintaan Anda, lebih dari urutan lahir. Namun, urutan lahir juga punya peran dalam menentukan bagaimana Anda memberi dan menerima cinta.

1. Anak Sulung

Anak sulung cenderung pintar, bertanggung jawab dan penuh prestasi. Ketika mereka tumbuh dewasa dan jatuh cinta, sifat positif itu menguntungkannya.

“Mereka rapi dan bertanggungjawab, penuh kasih sayang dan pandai merawat orang lain,” katanya. “Dalam sebuah hubungan, Anda bisa mengandalkan si sulung untuk mendorong agar dirinya lebih baik dan kritis terhadap diri sendiri.”

Tapi ada juga kekurangan yang biasanya dimiliki oleh si sulung, kata pakar parenting Michael Grose.

“Anak pertama bisa jadi perfeksionis, mereka suka mengontrol,” katanya. “Cara mereka memutuskan segala sesuatu dengan risiko rendah bisa membuat anak tengah dan bungsu yang lebih fleksibel jadi pusing tujuh keliling.”

2. Anak Tengah

Berkompromi adalah keunggulan dari anak tengah. Mereka secara alami orang yang suka dengan kedamaian.

“Anak tengah belajar beradaptasi dan bisa berdiplomasi dan unggul dalam bernegosiasi karena mereka menghadapi kakak dan adik,” kata Campbell.

“Keadilan sangat penting bagi mereka.”

Jika Anda anak tengah, sangat penting mengungkapkan sesuatu yang mengganjal di hati dalam kehidupan percintaan.

“Kadang, anak tengah bisa terbawa opini orang lain,” kata Blair. “Mereka realistis tentang kemampuannya sendiri, tapi mungkin tidak terlalu merasa pasti tentang apa yang mereka inginkan dalam hidup.”

3. Anak Bungsu

Anak bungsu kebanyakan orang yang suka mencari perhatian, berani ambil risiko dan penuh karisma. Dalam hubungan percintaan, mereka cenderung jadi orang yang ceria dan spontan serta mudah berteman.

“Sejak kecil, mereka belajar membaca orang dan berinteraksi dengan mereka yang lebih tua di keluarganya,” kata dia.

“Mereka biasanya sangat mudah berinteraksi.”

Sisi buruknya, mereka sering berharap orang lain akan membuat keputusan untuk mereka dan bisa sedikit tidak bertanggungjawab bagi sebagian orang.

“Anak bungsu bisa membuat pasangannya yang sulung tidak sabar karena mereka penuh pesona,” kata Grose. “Mereka bisa agak merepotkan. Tapi sisi baiknya, anak bungsu bisa membuat anak sulung yang kaku jadi lebih santai.”

4. Anak Tunggal

Saat tumbuh besar, anak tunggal tidak pernah harus berkompetisi untuk merebut perhatian orangtua. Mereka konvensional, bertanggungjawab dan bisa diandalkan. Namun karena perhatian selalu tercurah padanya, anak tunggal kadang bisa selalu meminta curahan cinta.

“Mereka tumbuh jadi pusat perhatian dan selalu mendapat kebutuhan lahir dan batin,” jelas dia.

Menurut Campbell, pasangan terbaik anak tunggal mungkin adalah anak sulung karena “mereka sama-sama mengusung nilai tanggung jawab dan bisa diandalkan.”

Hubungan dengan anak bungsu bisa lebih berliku-liku.

“Anak tunggal yang berpasangan dengan bungsu bisa frustrasi karena mereka terbiasa hidup dalam dunia orang dewasa dan melihat spontanitas si bungsu sebagai hal yang konyol,” katanya. “Mereka hanya harus bersabar.” gaya.tempo.co

Cegah Kasus Balita Stunting (Kerdil) dengan Konsumsi Ikan

Makan ikan belum menjadi sebuah kebiasaan bagi masyarakatnya. Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek mengatakan kenyataan tersebut dibarengi dengan data dari Kementerian Kesehatan yang menunjukkan masih tingginya angka balita yang mengalami stunting.

Stunting merupakan kondisi perkembangan tinggi badan yang tidak optimal, yang akhirnya berdampak kualitas kecerdasan menjadi tidak seperti yang diharapkan. Data pemantauan status gizi pada 2016 menunjukkan jumlah balita stunting mencapai 27,5 persen. Rinciannya, sangat pendek 8,5 persen dan pendek 19 persen. Sedangkan target Badan Kesehatan Dunia (WHO) adalah di bawah 20 persen. “Masalah stunting ini serius. Bayangkan, dari 10 anak, 4 di antaranya tidak cerdas. Ini bukan yang kita inginkan. Kita ingin anak-anak Indonesia menjadi sehat dan cerdas,” kata Menteri Kesehatan.

Data tersebut juga menyebutkan kasus balita stunting ditemukan di sebagian wilayah Indonesia, terutama di wilayah Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan, dan Papua. Padahal di sana protein hewani ikan banyak sekali. "Mungkin ada budaya yang harus kita cerahkan. Ada yang bilang bau anyir nanti kalau hamil, lalu ibunya tidak boleh makan apa-apa kalau habis melahirkan," ujarnya,
Karena itu, Nila meminta masyarakat mengubah mindset agar lebih senang makan ikan sehingga mendapatkan protein dari ikan. Seharusnya, ikan bisa menjadi makanan utama bagi masyarakat karena memiliki protein tinggi bila dimasak dengan benar. Berbagai jenis ikan, mulai ikan yang bertulang belakang, tidak bertulang (cumi-cumi dan gurita), hingga kerang-kerangan, menjadi kekayaan yang melimpah di Indonesia. Tidak hanya di lautan, ikan perairan daratan di Indonesia juga kaya, contohnya lele, mujair, dan nila.
Secara umum, komposisi protein hewani pada ikan sebenarnya tidak terlalu berbeda kandungannya dengan protein hewani lain. Namun ikan dikatakan lebih menyehatkan karena lemak yang terkandung di dalamnya bukan lemak jenuh. Sebagai salah satu sumber protein hewani, ikan mengandung asam lemak tak jenuh, seperti, omega, yodium, selenium, fluorida, zat besi, magnesium, zink, taurin, serta coenzyme Q10. Selain itu, kandungan omega-3 pada ikan jauh lebih tinggi dibanding sumber protein hewani, seperti daging sapi dan ayam.

“Lebih sehat ikan, bukan lemak jahat kalau bahasa awamnya. Ikan memiliki kandungan DHA, sementara daging sapi atau ayam tidak ada. Selain itu, semua ikan halal, dapat dikonsumsi semua usia," katanya. tempo.co

4 Tips Mengatasi Kemarahan Si Kecil

Terkadang anak meluapkan perasaannya dengan marah. Jika ada hal yang tidak sesuai dengan keinginannnya balita seringkali marah. Rasa lelah, kantuk dan bosan dapat memicu anak marah. Tugas orang tua untuk membimbing anak dalam mengatasi rasa marahnya. 


Berikut 4 cara membantu anak mengatasi rasa marah yang dilansir dari laman Youngparents:

1. Saat pulang dari sekolah, anak seringkali marah saat Anda memintanya untuk segera melakukan pekerjaan rumahnya. Sebagai orang tua, Anda wajib memberikan anak waktu untuk bersantai sejenak sepulang sekolah. Berikan waktu sekitar 30 menit untuk mengganti pakaian sekolahnya, bersenang-senang dan bermain sebentar. Dibandingkan saat balita, anak usia sekolah sudah bisa diajak berdiskusi dan beragumentasi. Orang tua dapat menegosiasikan durasi beristirahatnya sebelum mengerjakan pekerjaan rumahnya.

2. Saat temannya berada di rumah Anda untuk bermain, mereka mulai bertengkar. Sebelum bertambah parah, jelaskan dengan tegas bahwa tingkah laku buruk tidak dapat diterima membuat temannya tidak senang. Tegaskan bahwa jika dia terus bertindak seperti ini maka temannya tidak ingin bermain dengannya lagi dan ia tidak punya teman untuk bermain.

Anak usia sekolah sudah menyadari perilakunya mempunyai dampak. Perilakunya mempengaruhi orang lain, semakin dia akan berpikir dua kali sebelum ia marah kepada teman-temannya.

3. Saat belajar musik, anak marah karena ia tidak bisa mengerjakan dengan baik latihan musik yang diberikan oleh gurunya. Sebagai orang tua, Anda harus menenangkannya, yakinkan bahwa dia akan bisa menyelesaikan tugasnya. Mintalah ia untuk berlatih selama 10 menit, kemudian berhenti selama 30 menit, kemudian berlatih untuk 10 menit lagi, dan seterusnya.

Beri dia semangat sampai dia merasa ada kemajuan. Hal ini merupakan pembelajarannya untuk bertanggung jawab atas tindakannya sendiri, dan dapat menanganinya dengan efektif.

4. Ketika saudaranya memilih Youtube yang akan ditonton, anak marah karena dia menginginkan tontonan youtube yang lain.  Maka orang tua jangan mengubah pilihan youtube sesuai keinginannya meskipun saudaranya tak keberatan agar tidak bertengkar. Tetap pada pilihan pertama dan jelaskan bahwa setiap orang di keluarga memiliki kesempatan untuk memilih. 

Ingatkan dia bahwa ia tak boleh marah seperti itu jika tidak mendapatkan apa yang dia inginkan. Anak perlu memahami bahwa setiap orang memiliki kebutuhan dan minatnya sendiri. Ia tak boleh hanya memikirkan dirinya sendiri. Secara konsisten beri pengertian agar ia juga memikirkan orang lain. tempo.co

Studi: Bagaimana Waktu Tidur yang dapat Mempengaruhi Kedisplinan Anak?

Anak harus tidur dalam waktu yang cukup, karena itu bisa mempengaruhi kesehatannya. Tak hanya itu, menerapkan kedisplinan waktu tidur juga berpengaruh terhadap kedisplinan anak.
 
Mengajak anak-anak tidur bisa menjadi lebih mudah dengan menggunakan media yang tepat. Sekadar mengingatkan anak untuk tidur saja tidak cukup efektif untuk menggerakkan anak ke kamar tidur. Orang tua harus menegakkan aturan, yakni dengan menentukan waktu tidur yang spesifik.

Peneliti Seattle Children's Research Institute dan University of Washington Michelle Garrison mengatakan, konsistensi orang tua terkait jadwal tidur anak dan penggunaan media yang digunakan akan berpengaruh pada kebiasaan tidur anak.

Studi ini menunjukkan bahwa dengan penegakan aturan, bukan sekedar dorongan, efektif membuat anak-anak mencapai waktu tidur yang sesuai. Beberapa faktor seperti umur, jenis kelamin, pendapatan keluarga, tingkat pendidikan orang tua dan penggunaan teknologi di kamar tidur juga turut membantu.


“Upaya untuk menunjukkan aspek rutinitas kepada anak bisa dibarengi dengan melibatkan anak dalam proses tidur untuk membantu mereka meningkatkan kebiasaan tidur yang lebih mandiri dan sehat. Misalnya, membacakan buku untuk anak yang masih kecil atau memberikan kesempatan untuk anak remaja melakukan hal yang membuatnya relaks untuk membantu mereka cepat tidur,” kata Garrison.

Orang tua harus memastikan ini dilakukan setiap malam pada jam yang sama. Dengan begitu, anak-anak juga akan terpacu untuk melakukan self-monitoring, apakah kebiasaan tidurnya sudah sesuai atau belum.

Harapannya, ketika anak-anak mulai tumbuh dewasa, mereka memiliki kesempatan untuk mempraktekkan dan menumbuhkan kemampuan self regulation atau kemampuan mengontrol perilaku. tempo.co

Membangkitkan Kecerdasan Anak melalui Dongeng

Menimbang pentingnya membaca bagi pertumbuhan anak, American Academy of Pediatrics (APP) menyarankan agar orangtua membacakan buku atau gambar dengan nyaring kepada anak untuk membantu kemampuan berbahasa anak dan tentunya meningkatkan ikatan antara anak dan orangtua.
 
Adalah buku dongeng yang berisi cerita rakyat ataupun legenda bisa Anda pilih sebagai materi bacaan untuk Si Kecil. Berikut adalah beberapa manfaat lain yang bisa Anda dapat jika rutin mendongengkan anak di rumah.

Membangun Kecerdasan Emosional

Sebagai sarana yang mampu merekatkan hubungan orang tua dan anak, mendongeng dapat membangkitkan kecerdasan emosional untuk anak. Dengan memberikan nilai-nilai moral dalam kisah dongeng, anak dapat belajar dengan melihat contoh melalui tokoh dalam cerita yang didongengkan.

Mengembangkan Daya Imajinasi Anak

Mendongeng dapat meningkatkan imajinasi dan membiarkan anak memiliki dunianya sendiri. Jika rutin dilakukan, kegiatan ini dapat meningkatkan kreativitas anak yang akan menjadi bekal mereka saat terjun langsung ke sekolah.

Meningkatkan Keterampilan dalam berbahasa

Kisah dongeng merupakan stimulasi dini yang mampu merangsang keterampilan berbahasa pada anak-anak. Menyuguhkan kisah dongeng kepada anak dapat melatih kemampuan berbahasa mereka. Anak yang rutin didongengkan akan memiliki perbendaharaan kosakata yang lebih beragam dan juga lebih mampu berkomunikasi dengan orang lain.

Membentuk Rasa Empati

Kepekaan anak rentang usia 3-7 tahun akan dirangsang melalui situasi sosial. Dengan mendongeng, anak dapat memupuk pelajaran berempati terhadap lingkungan sekitar.

Membangkitkan Minat Baca

Langkah awal menumbuhkan minat baca pada anak adalah melalui kegiatan mendongeng yang bisa Anda lakukan sejak dini, bahkan sejak anak masih dalam kandungan. Membacakan kisah dongeng kepada anak-anak dapat meningkatkan minat dan rasa penasaran yang lebih tinggi agar mereka mau belajar membaca. Rasa ingin tahu serta keinginan untuk memahami cerita dapat menstimulasi otak anak menjadi lebih kritis.

Namun demikian disayangkan karena saat ini minat baca di Indonesia masih sangat rendah. Dari 61 negara di dunia, Indonesia menempati urutan kedua dari bawah, 60, sebagai negara dengan minat baca terendah. Lewat gerakan #BukuUntukIndonesia Anda bisa membantu meningkatkan minat baca pada anak-anak dengan mendonasikan buku lewat tautan ini.Bantu bekali anak-anak Indonesia dengan pengetahuan yang bisa mereka dapatkan dari buku yang Anda donasikan untuk perjalanan panjang mereka ke depan. Yusuf budiman, kompasiana.com

Astaga! Ditemukan Pabrik Bayi, Mereka Hanya Diberi Makan Mie dan Sebagian Terjangkit AIDS

Anak sejatinya adalah titipan-Nya. Untuk itulah, memastikan jika anaknya tumbuh dengan baik, sehat dan tanpa adanya tekanan dari pihak lain adalah hal yang senantiasa harus selalu diupayakan para orang tua demi menjaga dan menjamin agar anak-anak merasa aman dan terlindungi.
 
Jika sebagian besar para ibu dan orangtua banyak mengupayakan segala hal demi membuat bayi mereka aman, nyaman dan senantiasa sehat terjaga. Sayangnya, ada sebagian bayi yang mendapatkan nasib yang kurang beruntung, mereka seolah dibuang dan ditelantarkan, sehingga bayi-bayi ini harus hidup dalam kesengsaraan dan kondisi yang memprihatinkan.

Belakangan ini banyak desas-desus di beberapa negara yang mengatakan terdapat pabrik bayi. Pabrik bayi tersebut akan memilih para wanita hamil untuk melahirkan dipabrik tersebut dan si bayi akan dibawa kemudian dibeli untuk di jual kembali. Dan rupanya, hal ini bukan cuma gosip belaka, ternyata memang benar adanya. Pabrik bayi keji ini ditemukan di Cina, kepolisian Cina menemukan adanya sebanyak 37 bayi terlantar di pabrik tersebut, kondisi merekapun begitu memprihatinkan.

Dari Temuan Ke 37 Bayi, Mirisnya Tidak Ada Satupun yang Sehat
 
Setelah kepolisian setempat mendapatkan laporan adanya sebuah gedung yang mencurigakan dan seringkali terdengar suara tangisan bayi, akhirnya polisi mengecheck gedung tersebut dan menemukan jika gedung tersebut ternyata sebuah pabrik bayi. Dari pabrik ini, polisi telah mengamankan sebanyak 37 bayi malang dalam kondisi yang masih hidup. Bayi-bayi malang ini ditemukan dalam sebuah ruangan kumuh dengan kondisi yang begitu mengkhawatirkan.

Jika pada umumnya semua bayi harus mendapatkan lingkungan yang bersih dan baik untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangannya agar terjaga dengan baik, bayi-bayi ini justru mendapatkan nasib yang begitu miris. Bayi yang seharusnya mendapatkan asupan makanan bergizi dengan minum ASI dari orangtuanya, mereka justru diberi makan mie dan makanan sisa. Yang lebih naasnya lagi, beberapa bayi yang ditemukan tersebut dinyatakan terjangkit virus HIV dan positif dinyatakan AIDS dan terkena penyakit menular seksual setelah dilakukan pemeriksaan kesehatan. Sudah bisa dipastikan, bayi-bayi tersebut mendapatkan penyakit menular ini karena ulah ibunya yang tak bertanggung jawab.
 
Seorang juru bicara kepolisian Wilayah Shandong, Cina mengatakan bahwa dari ke 37 bayi yang mereka temukan, tidak satupun diantaranya yang berada dalam kondisi yang sehat, bahkan 7 diantaranya terjangkiti virus HIV dan AIDS.

Kondisi pabrik bayi ini benar-benar mengerikan, jauh dari kata bersih dan amat tidak cocok untuk proses melahirkan. Jika dilihat, ruangan yang sesak dan gelap serta lingkungan yang kumuh, mungkin lebih cocok jika gedung tersebut seperti pabrik peralatan berat. Pihak kepolisian yang menggerebek tempat kejadian sekaligus telah menangkap 103 orang yang terkait dengan pabrik bayi tersebut. Penyelidikan lebih lanjut yang dilakukan pihak kepolisian mengungkakan jika bayi-bayi malang tak berdosa ini rencananya akan dijual kepada orang yang akan mengadopsi mereka.

Sungguh sebuah kenyataan hidup yang memilukan. Hal ini juga semata-mata tak luput dari faktor ekonomi atau hubungan remaja yang dilakukan pranikah. Sehingga akhirnya, membuat bayi-bayi tak berdosa ini menanggung beban hidup. Jika saja mereka memiliki pilihan, tentu bayi-bayi ini akan lebih memilih untuk tidak dilahirkan jika saja kehidupan yang akan mereka jalani se-memprihatinkan ini. Ulah-ulah oknum tak bertanggung jawab membuat bayi-bayi mungil tak berdosa ini harus hidup dalam keprihatinan yang begitu miris.

Wanita Hamil Dibayar Untuk Melahirkan di Pabrik Bayi

Setelah dilakukan investigasi lebih dalam terhadap semua orang yang terkait dengan permasalah ini, ternyata diketahui jika bayi-bayi tersebut didapat dari wanita-wanita hamil yang dibayar agar mau melahirkan di pabrik bayi tersebut. Para wanita yang dimanfaatkan adalah mereka yang membutuhkan uang dan tidak terlalu memperdulikan bayi yang dikandungnya. Sebagi imbalannya, para wnaita hamil yang mau melahirkan dan menyetujui kelahiran di pabrik akan diberikan uang sekitar Rp. 100-180 juta rupiah untuk sekali melahirkan. Karena latar belakang si ibu atau calon ibu yang melahirkan tidak pernah diperhatikan atau diseleksi dengan baik, maka hampir semua bayi yang lahir memiliki penyakit menular dari ibu mereka.

Sungguh sebuah kisah yang tragis, dimana lagi-lagi, kondisi ekonomi harus menjadi harga yang mahal demi bertahan dan berjuang dalam kerasnya kehidupan. Segala cara banyak diupayakan oleh mereka yang seringkali dibuat kalang kabut oleh kehidupan dunia, sehingga segala hal dan upaya banyak dilakukan, sekalipun itu harus mengorbankan darah dagingnya.

Juru bicara kepolisian juga menambahkan, jika hal tersebut adalah bentuk baru dari perdagangan bayi dan anak. Jika dulu mereka mencuri atau menculik anak untuk kemudian dijual. Saat ini mereka berani membayar para wanita dan terang-terangan memperjual-belikan anak-anak dengan sesuka hati.

Hingga sejauh ini hukuman terberat yang diberikan untuk mereka yang terlibat dengan kasus perdagangan manusia baik bayi maupun rang dewasa akan dikenakan hukuman mati. Apabila seseorang terbukti menjual sebanyak 3 anak, maka hukuman mati sudah siap didepan mata. bidanku.com

5 Cara Menangani Alergi Protein Susu Sapi pada Anak

Alergi pada anak memiliki angka prevalensi yang lebih besar dibandingkan dengan orang dewasa. Menurut Allergy and Asthma Foundation of America, alergi protein susu sapi termasuk salah satu alergi makanan yang paling umum terjadi pada anak-anak, dengan prevalensi alergi di tahun pertama kehidupan antara 2-7,5%. Bila tak tertangani dengan baik, alergi tak hanya membuat anak berisiko mengalami berbagai gangguan tumbuh kembang, namun juga berdampak pada aspek psikologis seluruh keluarga. Perhatikan fakta-fakta berikut dalam mengenali, mengonsultasikan, dan mengendalikan alergi pada anak.

1/ Risiko alergi pada anak umumnya meningkat bila terdapat riwayat penyakit atopik dalam keluarga seperti dermatitis atopik, asma, atau rhinitis alergi, dilahirkan lewat operasi caesar, dan terpapar asap rokok.

2/ Menurut Konsultan Alergi Imunologi Anak Prof. DR. Budi Setiabudiawan, dr., SpA(K), M.Kes, gejala akibat alergi susu sapi dapat menyerang sistem gastrointestinal (50-60%), kulit (50-60%), dan sistem pernapasan (20-30%). Adapun reaksi yang timbul dapat berupa eksim di kulit, sesak napas, kolik, diare berdarah, dan konstipasi. Bila diabaikan, keadaan ini dapat menimbulkan dampak jangka panjang terhadap kesehatan anak.

3/ Beberapa contoh gangguan tumbuh kembang anak akibat alergi yang tak tertangani dengan baik termasuk menjadi berat badan kurang ideal karena anak pilih-pilih makanan (picky eating), risiko obesitas, penyakit jantung, dan diabetes akibat gangguan hormon, dan gangguan saluran napas maupun gangguan tidur karena reaksi alergi rhinitis dan asma.
 

4/ Alergi protein susu sapi ini cenderung lebih sulit dikendalikan, karena alergen bisa hadir dalam berbagai bentuk selain susu, seperti kue, puding, dan sup yang mengandung susu sapi. Maka, orang tua harus tanggap mencermati kandungan dalam makanan dan lekas menangani reaksi alergi pada anak. Namun, psikolog Anna Surti Ariani S.Psi., M.Si., Psi. mengingatkan, orang tua tak perlu khawatir berlebihan, agar anak tidak tumbuh menjadi pencemas dan kurang percaya diri karena batasan pola makan yang harus dipatuhinya.

5/ Terapkan langkah 3K dalam menanggapi alergi pada anak: Kenali risiko dan gejala alergi dengan mengenal sifat anak dan kondisi lingkungan. Konsultasikan ke dokter agar anak mendapatkan diagnosis dan penanganan alergi yang tepat; kendalikan penyebab alergi dengan menyesuaikan gaya hidup dengan kebutuhan anak, termasuk dalam hal asupan nutrisinya.

Sb: Konferensi Pers Kampanye Bunda Tanggap Alergi dengan 3K (Kenali, Konsultasikan, dan Kendalikan) oleh Sarihusad & femina.co.id

Melatih Kemampuan Berbahasa Anak dengan Mengajak Bermain Kata & Merangkai Cerita

Inilah aktivitas yang bisa dilakukan bersama-sama. Saling melengkapi kata. Anak meningkatkan keterampilan berbahasanya dengan menciptakan berbagai cerita. Dia akan memahami bagaimana ide mengalir dari satu titik ke titik lain, dan bahwa gagasan-gagasan dari orang lain juga sangat penting.

1/ Manfaat: Kerja sama merupakan keterampilan penting untuk dikembangkan. Dalam aktivitas ini, anak akan membangun keterampilan berbahasanya serta berlatih untuk bisa bergantian (melakukan sesuatu).

2/ Petunjuk: Bersama anak, karang sebuah cerita. Tentukan tema, lalu secara bergantian tambahkan satu kalimat setelah yang lain. Kalimat pertama dapat dimulai dengan, “Pada suatu hari, hiduplah seorang gadis cilik di sebuah negeri ajaib.”

3/ Alternatif aktivitas: Berikan pertanyaan demi pertanyaan untuk membantu anak mengembangkan cerita, karakter, setting, dan tindakan. Penambahan properti juga bisa membantu. Misalnya, gunakan topi dan syal, maka seorang tokoh pun akan muncul. femina.co.id

Tes Genetik: Anda Bisa Kenali Bakat Anak Sejak Dini

Mana yang lebih berpengaruh dalam keberhasilan seseorang di suatu bidang, nature atau nurture alias bakat bawaan secara genetik atau pola asuh? “Sebagian orang mungkin berpendapat genetik lebih kuat, sebaliknya ada pula yang bilang pola asuh lebih berperan.
 
Namun, seperti kata Albert Einstein, setiap anak bisa jadi jenius jika mendapatkan dukungan yang tepat sesuai dengan potensi yang ia miliki. Intinya dua-duanya sama besar pengaruhnya,” ujar Sally Soo, dari Map My Gene Singapura, konsultan bioteknologi profesional yang baru membuka cabang di Jakarta.

Umumnya, untuk mengetahui bakat seorang anak, orang tua perlu mengenalkan berbagai kegiatan seperti olahraga, kesenian, atau computer di luar sekolah yang menghabiskan biaya cukup besar. Dari situ biasanya ketahuan bakat si anak. Tapi kabar baiknya, kini Anda bisa melakukan pemetaan DNA menggunakan teknologi yang disebut Tes Genetik Bakat Bawaan Lahir untuk mengetahui bakat anak sesungguhnya.

“Karena saya dan suami sama-sama berkecimpung di bidang seni, kami pikir anak kami juga akan memiliki bakat yang sama. Tapi setelah melakukan tes, ternyata anak kami berbakat di bidang teknik -  mekanik, dan tari,” ujar Agatha Suci, penyanyi jebolan Indonesia Idol yang juga ibu dari dua anak.”Kami melakukan tes pada anak karena kami tidak ingin egois memaksakan kehendak pada anak untuk menekuni suatu bidang,” tambahnya.

Gen adalah bagian dari DNA (Deoxyribonucleic Acid) yang menentukan bagaimana sel-sel akan hidup, berfunsi dan berperilaku sepanjang hidupnya. Gen ibarat bahan bangunan kehidupan. Dengan mengetahui gen kita dapat menemukan karakteristik unik yang membedakan manusia yang satu dengan yang lain.

Karenanya tak salah jika masa depan kita sebenarnya dapat ditentukan melalui gen yang telah ada ada tubuh sejak kita lahir. Bahkan Robert Plomin, profesor dan ahli riset perilaku genetika dari The Institute of Phychiatry, King’s College London, mengatakan, 32%-62 tingkat kesuksesan orang dipengaruhi oleh gen-gen di dalam tubuhnya.

Untuk mengetahui gen bakat bawaan lahir caranya mudah saja, cukup dengan dilakukan pengambilan sampel yang dilakukan dengan mengusap rongga mulut, mengirim sampel itu ke laboratorium untuk diolah dan diurai menjadi kode-kode DNA yang terperinci, lalu diterjemahkan menjadi informasi. Waktu yang diperlukan sejak sampel diambil hingga informasi didapat sekitar 4 – 6 minggu.
 
Tes berbiaya Rp20 juta itu tak hanya bermanfaat bagi orang tua untuk mengetahui potensi anak sejak kecil, tapi juga bisa digunakan untuk mengetahui potensi sesungguhnya dari seorang remaja, yang biasanya masih labil, sebelum memutuskan untuk kuliah di bidang apa.

Bahkan ini bisa berguna bagi perusahaan atau profesional yang ingin tahu apakah ia sudah tepat berkarier di bidang tertentu. Ini karena sesungguhnya gen seseorang tidak berubah, tapi bisa jadi potensi tersembunyi jika tidak pernah diasah.

Tes genetik bakat bawaan lahir juga bisa menemukan kepribadian seseorang (optimis, pengambil risiko, gigih, pemalu,penyabar, cepat beradaptasi), kecerdasan intelektual (analitis, memori, kreativitas, kemampuan membaca, imajinasi), kecerdasan emosional (penyayang, kesetiaan, kepekaan emosi, sosialiasi, kemampuan mengontrol diri), bakat artistik (akting, musik, menggambar, sastra, menari, bahasa), kemampuan olahraga (stamina, teknik, kecenderungan cedera), bahkan potensi kesehatan fisik dan kecanduan seseorang.

“Siapa yang tidak tahu Taufik Hidayat, salah satu atlet bulutangkis terhebat yang pernah dimiliki Indonesia? Dari tes genetik, ia memang terbukti memiliki gen yang berpotensi membuatnya menjadi atlet. Bisa dibilang, tes ini memiliki akurasi hingga 95%,” ujar Kartina Lydiawati, perwakilan dari Map My Gene Indonesia. femina.co.id

Tips Mengoptimalkan Kepintaran si Kecil

Pada usia berapa anak perlu diasah kepintarannya? Pertanyaan ini mungkin sering Anda dengar ya, Bun. Atau bahkan Anda sendiri menyimpan pertanyaan yang sama? Satu sisi kita tidak ingin anak matang karena karbitan, atau dipaksa matang dan pintar sebelum waktunya. Tapi di sisi lain, memiliki anak yang pintar dan memahami situasi pastilah impian para orangtua.
 
Sebenarnya tidak ada usia minimal anak boleh diasah kepintarannya. Justru, stimulasi sejak dini akan membuahkan hasil baik pada masa yang akan datang, terutama ketika anak sudah dewasa. Untuk mengoptimalkan kepintaran anak perlu stimulus yang tepat dan Cara membuat anak pintar, baik itu dari nutrisi yang dikonsumsi selama hamil, makanan anak sehari-hari dan juga stimulasi bisa dilakukan dengan berbagai kegiatan, salah satunya melalui permainan.

Mengoptimalkan kepintaran sejak dini.
Apa yang bisa dilakukan untuk mengoptimalkan kepintaran si Kecil ketika dia masih bayi dan tidak bisa diajak berkomunikasi? Mendengarkan musik mungkin bisa membantu, tapi ada yang lebih diperlukan yakni interaksi. Mengajak bayingobrol, menyanyi bersama atau membacakan buku akan menstimulus kepintaran linguistiknya, memperbanyak kosa kata dalam memorinya, sehingga ketika dia mulai bisa berbicara dia sudah mengenal banyak kata.

Bunda juga bisa berinteraksi dengan si Kecil melalui sentuhan.  Coba pegang jari si kecil dan tunjukkan mainan yang berada di atasnya, selain untuk melatih kepintaran spasial atau visual,  juga melatih motorik Si Kecil. Sentuhkan jari-jarinya dengan objek untuk membedakan permukaan yang lembut atau kasar, ini akan melatih sensor di jarinya yang terhubung langsung ke saraf otak.

Mengoptimalkan kepintaran sesuai dengan usia.
Yang penting untuk disadari oleh orangtua adalah mengoptimalkan kepintaran anak sesuai dengan usianya melalui kegiatan atau permainan yang memang diperuntukkan untuk usia tersebut. Mainan yang tepat sesuai usia anak akan mengembangkan daya imajinasinya, kemampuan untuk berinteraksi dan melatih cara berfikir untuk menyelesaikan tantangan yang dihadapi.

Anak di usia batita terkadang masih menemukan keasikan dengan mainan ketika dia masih bayi, tapi coba berikan mainan yang lebih menantang misal balok dengan berbagai bentuk dan warna. Di usia ini, anak memiliki kebiasaan untuk menyusun benda yang ditemui sesuai dengan warna atau bentuknya sehingga dia akan belajar tentang bentuk dan juga warna. Konsisten untuk memakai satu bahasa dalam menyebut warna agar anak tidak bingung. Gunakan balok berbahan lunak agar aman digunakan.

Mendekati usia sekolah, perkenalkan mainan yang berbentuk angka atau huruf sehingga ketika dia masuk usia sekolah, dia tidak lagi asing dengan kedua hal tersebut. Agar permainan lebih menarik, pilih mainan berbentuk puzzle atau pop up sehingga anak memiliki rasa penasaran untuk memainkannya. Bunda bisa juga menyelingi dengan mendengarkan lagu untuk memperbanyak kosa kata si Kecil di usia ini.

Bagaimana ketika anak sekolah? Anak tetap perlu bermain. Pilih permainan yang berkaitan dengan pelajaran di sekolah untuk mengoptimalkan kepintarannya. Permainan seperti ular tangga atau monopoli bisa dimainkan oleh anak usia ini, mengasah kemampuannya berhitung dan mengasah strateginya juga merupakan salah satu Cara membuat anak pintar. Jika si Kecil menyukai ilmu alam , ajak dia untuk bereksperimen dengan memakai bahan – bahan yang aman. Pilih permainan yang membutuhkan interaksi sehingga anak menjadi lebih aktif.

Permainan yang diberikan sesuai dengan usia anak selain menghibur dan mempererat ikatan batin antara orangtua dan si Kecil juga menstimulus perkembangan otaknya. Yuk Bun, optimalkan otak si kecil melalui permainan yang menyenangkan. parentingclub.co.id

Saat si Kecil Tidak Suka Berbagi, Ini Tipsnya!

“Jangan! Bonekanya punyaku!”, teriak Weda (3 tahun) sambil berusaha merebutnya dari temannya yang sedang bermain ke rumah. Lalu mereka saling tarik-menarik dan berteriak hingga sang Bunda datang dan meminta Weda untuk meminjamkan mainannya.
 

Tapi, ternyata Weda menolaknya. Wah, kok si Kecil pelit begini ya? Ada nggak sih cara agar ia jadi lebih punya rasa peduli dan mau berbagi dengan temannya dan tidak menjadi anak egois?

Sifat Egosentris

Di kalangan anak-anak, hal ini memang sering terjadi. Sebenarnya sejak usia 15 bulan, si Kecil sudah mulai menangkap konsep berbagi. Namun, tentu saja mereka masih perlu banyak bantuan untuk memahaminya.

Berdasar penelitian, anak di bawah 3 tahun akan menganggap apa yang di sekitarnya adalah miliknya. Sedangkan di usia 3-4 tahun, rasa kepemilikan akan terbatas pada hal-hal yang mereka sukai.

Nah, untuk menciptakan si Kecil jadi generasi anak hebat yang tak hanya cerdas tapi juga punya rasa peduli dan mau berbagi, beberapa hal yang bisa Ibu lakukan adalah

1. Jelaskan arti berbagi

Saat anak mau membiarkan temannya memainkan mainan miliknya sebentar, jelaskan padanya bahwa ia berarti sedang berbagi. Sewaktu dipinjam, katakan bahwa mainan itu tetap miliknya.

2. Mengembangkan kemampuan empati

Empati merupakan bagian yang memegang peranan penting dari kecerdasan emosi seseorang agar ia tumbuh jadi anak hebat. Dengan empati, si Kecil diharuskan memahami situasi, perasaan dan motivasi orang lain dengan baik.

Kemampuan berempati ini bisa Ibu lakukan melalui kegiatan sehari-hari seperti mendongeng mengajaknya untuk membantu, peduli dan menolong pekerjaan orang tua sehari-hari, berbagi makanan dengan saudaranya, belajar menyayangi dan melindungi sesuatu seperti merawat hewan atau bunga dan sebagainya.

3. Memberi contoh

Berdasar penelitian University of Kansas, salah satu cara terbaik mengajarkan berbagi adalah memperlihatkan pada anak seperti apa perilaku berbagi, lalu memujinya ketika mereka mau berbagi.

Tanamkan pada si Kecil bahwa semua orang harus berbagi dalam hidup ini. Ibu bisa menunjukkannya dengan cara memperlihatkan padanya saat Ibu meminjam sesuatu kepada orang lain atau  sebaliknya. Selain itu ajarkan pula cara-cara sopan yang berkaitan dengan konsep berbagi, misal saat ia ingin meminjam mainan.

4. Minta si Kecil memposisikan pada tempat temannya.

Misalnya dengan berkata, “Kalau nggak mau pinjamin bonekanya ke Kiki, menurut kamu bagaimana perasaannya?”. Selain itu, tunjukkan juga ketika ia mau berbagi, bisa membuat temannya bahagia dan temannya akan menghargai dan suka padanya.

5. Bersikap adil

Ibu bisa membuat giliran yang sama lamanya saat menggunakan sebuah mainan. Ibu juga bisa menggunakan trik lempar koin, mengatur lamanya waktu atau hompimpa untuk menentukan siapa yang berhak memainkan mainan terlebih dahulu.

Dengan mengajarkan arti pentingnya berbagi sejak dini, maka si Kecil pun akan tumbuh jadi anak yang hebat. Yang tak hanya cerdas namun juga peduli. Karena dengan berbagi, secara bertahap ia akan belajar memikirkan kebutuhan dan perasaan orang lain. bebeclub.co.id

Menghukum Anak, Perlukah?

Apabila dilihat lebih dalam, sebenarnya perilaku anak sangat bergantung pada perkembangan fisik, emosional, usia, dan juga kepribadiannya. Tetapi yang sering terjadi justru perilaku anak dianggap bermasalah ketika tidak sesuai dengan harapan orangtua.
 
Hampir 90 persen orangtua mengaku pernah memberikan hukuman fisik pada anaknya, padahal hukuman fisik ini akan memiliki dampak membahayakan ketika anak tumbuh dewasa nanti. Tahukah anda, bahwa kekerasan fisik pada anak dapat menyebabkan keseimbangan emosi anak terganggu?

Mungkin ada orangtua yang berpikir, dengan memberikan hukuman fisik yang cukup keras akan dapat menghentikan kenakalan anaknya. Tetapi celakanya cara itu justru dapat menimbulkan masalah lain lagi. Sebab meskipun anak hanya sesekali dipukul, hal itu tetap dapat menyebabkan anak menjadi tidak percaya diri dan mudah stres.

Pertanyaannya, bisakah kita mencetak anak-anak hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut dalam diri mereka? Mungkin kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman, seperti gesper, rotan pemukul, dan seterusnya. Tetapi bukan berarti cara seperti itu perlu kita wariskan kepada anak cucu kita. Jaman telah berubah!

Hukuman untuk anak kerap menjadi pertanyaan bagi banyak orangtua. Beberapa memilih untuk memberi hukuman, sedangkan yang lain memilih untuk membiarkan kesalahan anak. Seringkali hukuman yang bersifat mengancam atau menimbulkan rasa takut tidak mempan pada anak. Mereka justru akan bereaksi negatif dan tidak memperbaiki perilaku.

Dalam banyak kasus, biasanya orangtua memberikan hukuman sebagai reaksi atas perbuatan yang dilakukan oleh anak. Bentuk hukuman ini seringkali adalah apa yang terlintas di benak orangtua saat itu. Setelah memberi hukuman, orangtua beranggapan bahwa hal itu akan membuat anak mereka jera, dan tidak akan mengulanginya lagi. Apakah cara memberikan hukuman seperti ini efektif?

Saat anak melakukan kesalahan, janganlah bereaksi secara berlebihan. Setiap kali anda hendak menghukum anak, cobalah untuk memahami dulu masalah yang dibuatnya, dan kemudian jelaskan dampak dari perbuatannya itu.

Apa yang sebenarnya kita harapkan saat memberi hukuman kepada anak? Pernahkah kita berpikir sejenak, apabila hukuman yang kita berikan itu bisa mencapai tujuan yang kita harapkan? Apakah kita hanya ingin menghukum agar mereka menyesal, atau ada makna lain yang ingin kita sampaikan melalui hukuman tersebut?

Apabila anda berada dalam situasi yang harus memberikan hukuman, sebaiknya lakukanlah dengan cinta, bukan dengan kekerasan atau hukuman fisik.


Ada tiga cara yang lebih efektif untuk menghukum anak, tanpa harus menyakiti anak, yaitu:
  • Berikan anak waktu sendiri untuk merenungi kesalahannya, tahap ini disebut refleksi diri, kemudian ajaklah anak mengobrol dan tanyakan mengapa dia berulah.
  • Berikan anak tugas atau pekerjaan tambahan di rumah, agar mereka belajar untuk memenuhi tanggung jawab yang telah mereka sanggupi sebelumnya.
  • Larang anak melakukan kegiatan kesukaannya untuk sementara waktu, seperti dilarang bermain video game atau menonton televisi selama satu minggu. Dan jangan lupa untuk membahas mengapa ia melanggar aturan dan bagaimana seharusnya ia bersikap.
Meskipun demikian, tidak berarti semua cara diatas dapat diterapkan pada anak di segala usia. Ketika anak berbeda usia, maka akan berbeda pula cara menghukumnya, dan berbeda pula efektivitas serta dampaknya.

Bentuk hukuman sebaiknya disesuaikan dengan usia anak. Misalnya, untuk anak yang masih berusia dibawah 5 tahun sebaiknya diberikan hukuman dengan cara memberi waktu sendiri. Sedangkan untuk anak yang berusia diatas 5 tahun sebaiknya diberikan hukuman berupa tambahan tugas rumah, atau mencabut haknya untuk melakukan aktifitas kesukaannya sementara waktu.

Metode hukuman yang paling tepat adalah metode yang membantu anak untuk mempelajari aturan-aturan yang ada di sekitarnya. Aturan ini akan membantu anak untuk memahami apa yang seharusnya mereka lakukan dan apa yang tidak boleh mereka lakukan.

Sebelum menerapkan aturan ini, sebaiknya diskusikan terlebih dahulu dengan anak. Buat negosiasi yang baik tentang pengaturan kegiatan sehari-hari anak, seperti waktu bermain, pekerjaan rumah yang harus dilakukan, dan sebagainya. Dengan dibuatnya aturan bersama ini anak diharapkan bisa memperbaiki perilaku salahnya di kemudian hari.

Satu lagi yang perlu kita ingat adalah, jangan memberi hukuman anak pada saat kita marah. Karena tujuan dari hukuman itu untuk mengajari anak agar berperilaku lebih baik lagi di kemudian hari, bukan untuk impas. Memang terkadang perilaku anak dapat membuat kita hilang kesabaran, namun itu bukanlah alasan yang tepat untuk menjatuhkan hukuman.

Karena tujuan dari memberikan hukuman itu adalah mengajarkan anak untuk mengambil keputusan yang lebih baik dan mengubah perilaku buruknya. Hukuman akan bermanfaat dan sangat efektif jika ditetapkan atau disepakati bersama sebelumnya. Hukuman ini tidak akan berjalan dengan baik jika berupa reaksi yang impulsif.
 
Komunikasi yang empati, penuh kasih sayang, dan tetap tegas dapat membantu anak memahami kesalahan yang ia lakukan. Biarkan anak mendapatkan pengalaman dari kesalahannya, agar berikutnya mereka bisa lebih bertanggung jawab. pendidikankarakter.com

Ini yang Terjadi Jika Anak Dibentak, Fatal Akibatnya

Tahukan anda di dalam setiap kepala seorang anak terdapat lebih dari 10 trilyun sel otak yang siap tumbuh. Satu bentakan atau makian mampu membunuh lebih dari 1 milyar sel otak, dan satu cubitan atau pukulan mampu membunuh lebih dari 10 milyar sel otak saat itu juga. Sebaliknya 1 pujian atau pelukan akan membangun kecerdasan lebih dari 10 trilyun sel otak.

 




Hasil penelitian Lise Gliot, berkesimpulan pada anak yang masih dalam pertumbuhan otaknya yakni pada masa golden age (2-3 tahun pertama kehidupan), suara keras dan membentak yang keluar dari orangtua dapat menggugurkan sel otak yang sedang tumbuh. Dan pada saat ibu sedang memberikan belaian lembut sambil menyusui, rangkaian otak terbentuk indah.

Penelitian Lise Gliot ini sendiri dilakukan sendiri pada anaknya dengan memasang kabel perekam otak yang dihubungkan dengan sebuah monitor komputer sehingga bisa melihat setiap perubahan yang terjadi dalam perkembangan otak anaknya.

“Hasilnya luar biasa, saat menyusui terbentuk rangkaian indah, namun saat ia terkejut dan sedikit bersuara keras pada anaknya, rangkaian indah menggelembung seperti balon, lalu pecah berantakan dan terjadi perubahan warna. Ini baru teriakan,” ujarnya.
 
Dari hasil penelitian ini, jelas pengaruh marah terhadap anak sangat mempengaruhi perkembangan otak anak. Jika ini dilakukan secara tak terkendali, bukan tidak mungkin akan mengganggu struktur otak anak itu sendiri. “Makanya, kita harus berhati-hati dalam memarahi anak.” Tidak hanya itu, juga mengganggu fungsi organ penting dalam tubuh. Tak hanya otak, tetapi juga hati, jantung dan lainnya.
 
Teriakan dan bentakan menghasilkan gelombang suara. Ya, hampir semua orang mengetahui hal itu. Yang belum banyak diketahui orang banyak adalah, bentakan yang disertai emosi seperti marah menghasilkan suatu gelombang baru.

Emosi negatif seperti marah mempunyai gelombang khusus yang merupakan gelombang yang dipancarkan dari otak. Gelombang ini dapat bergabung dengan gelombang suara orang yang berteriak. Nah, gabungan gelombang suara dan gelombang emosi marah ini menghasilkan gelombang ketiga dengan efek yang khusus.

Efek dari gelombang ketiga ini adalah sifat destruktifnya terhadap sel-sel otak orang yang dituju. Dalam satu kali bentakan saja, sejumlah sel-sel otak orang yang dijadikan target akan mengalami kerusakan saat dia terkena gelombang ini, baik bila dia mendengar suaranya atau pun tidak. Hal ini karena gelombang ketiga ini tetap merambat sebagaimana dia gelombang suara tetapi langsung ditangkap oleh otak sebagaimana gelombang otak.

Efek kerusakan pada sel-sel otak akan lebih besar pada anak-anak yang dijadikan sasaran bentakan ini. Pada remaja dan orang dewasa mengalami kerusakan yang tidak sebesar anak-anak, tetapi tetap saja terjadi kerusakan.

Efek jangka panjangnya dapat dilihat pada orang-orang yang sering mengalami bentakan di masa lalunya. Mereka lebih banyak melamun serta termasuk lambat dalam memahami sesuatu. Orang-orang ini biasanya mudah meluapkan emosi negatif seperti marah, panik atau sedih.

Mereka biasanya seringkali mengalami stress hingga depresi dalam hidup, karena kesulitan memahami pola-pola masalah yang mereka hadapi. Semuanya akibat dari sel-sel otaknya yang aktif lebih sedikit dari yang seharusnya.

Oleh karena itu, sebagai orangtua, pendidik, ataupun orang yang lebih tua dari “mereka”, sebaiknya memilih sikap yang lebih kreatif dalam menghadapi tingkah anak yang mungkin kurang baik. Seringkali orangtua bukan mencegah, mengarahkan, dan membimbing sebelum kesalahan terjadi. Seharusnya orangtua mempertimbangkan tingkat perkembangan kejiwaan anak, sebelum membuat aturan.

Jangan menyamakan anak dengan orang dewasa. Orangtua hendaknya menyadari bahwa dunia anak jauh berbeda dengan orang dewasa. Jadi, ketika menetapkan apakah perilaku anak dinilai salah atau benar, patuh atau melanggar, jangan pernah menggunakan tolok ukur orang dewasa. pendidikankarakter.com